Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Kasus Penganiayaan Santri di Mojokerto, Diduga 5 Pelaku Masih Anak-anak

Kasi Pidum Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko.

Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus penganiayaan yang menewaskan seorang santri salah satu pondok pesantren (ponpes) ternama di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto memasuki Tahap II (Penyerahan tersangka dan Barang Bukti). Diduga ada lima pelaku anak dalam kasus yang menewaskan korban, GTR.

“Kasus penganiayaan pelaku anak di salah satu Ponpes di Kabupaten Mojokerto itu telah kita nyatakan berkasnya lengkap atau P21 pada tanggal 6 Januari 2022,” ungkap Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko, Selasa (25/1/2022).

Pada, Selasa (25/1/2022), Kejari Kabupaten Mojokerto menyerahkan tersangka dan barang bukti dari penyidik ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Masih kata Kasi Pidum, tidak ada fakta bukti baru dalam kasus penganiayaan santri asal Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan tersebut.

“Pelaku anak berjumlah lima, semuanya masih kategori anak atau belum berumur 18 tahun. Pelaku 1, 2, 3, 4 berumur 16 tahun dan 1 pelaku berusia 14 tahun. Pelaku berusia 14 tahun asal Sumenep, untuk empat pelaku lainnya berasal dari Gresik, Sidoarjo dan dua dari Surabaya,” katanya.

Kelima pelaku melakukan kekerasaan terhadap korban yang mengakibatkan meninggal dunia. Menurutnya, tidak ada peran masing-masing pelaku. Kelimanya melakukan kekerasaan terhadap korban yang dilakukan secara spontan dengan menggunakan tangan kosong. Alasan para pelaku anak melakukan kekerasaan, akan diungkap di persidangan.

“Untuk kejadian penganiayaan yang dilakukan kelima pelaku anak itu terjadi pada, Rabu tanggal 13 Oktober 2021 di salah satu Ponpes di Kabupaten Mojokerto. Korban dan pelaku anak ini, itu hubungannya adalah teman. Teman sebaya, sesama santri. Penganiayaan ini tidak sengaja jadi mereka melakukan penganiayaan biasa. Pakai tangan kosong,” jelasnya.

Kejadian saat malam hari dan bukan saat latihan beladiri. Kelima pelaku anak tersebut dijerat Pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kelima pelaku anak tersebut tidak dilakukan penahanan karena, lanjut Kasi Pidum, kelima pelaku anak tersebut masih kategori anak. Kelima pelaku juga sudah dilakukan pendampingan.

“Untuk pendampingan, sudah kami lakukan. Seperti hari ini, pada penyerahan tersangka dan barang bukti kami bekerjasama dengan P2TP2KB Kabupaten Mojokerto untuk melakukan pendampingan, kami hadirkan psikolog. Kemudian kami hadirkan wali, orang tua dan wali dari Ponpes juga hadir,” tuturnya.

Kasus tersebut terbongkar setelah pihak keluarga menemukan kejanggalan dengan jenazah korban GTR. Ini lantaran jenazah santri asal Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan tersebut terdapat lebam pada bagian dada dan lengan kiri.

Darah segar keluar dari mulut saat pihak keluarga melihat kondisi jenazah di Rumah Sakit Sumberglagah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto pada Kamis (14/10/2021) lalu. Makam korban kemudian dibongkar Satreskrim Polres Mojokerto pada, Kamis (21/10/2021). [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar