Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Kasus Pencabulan dan Pemerkosaan Dua Kakek di Mojokerto Masuki Babak Baru

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo.

Mojokerto (Beritajatim.com) – Kasus pencabulan dan pemerkosaan yang dilakukan dua orang kakek warga Desa Sumbersono, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto terhadap anak di bawah umur memasuki babak baru. Tim penyidik Satreskrim Polres Mojokerto melimpahkan dua berkas ke penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo mengatakan, aksi persetubuhan dan pemerkosaan terhadap korban dibawah umur terjadi bulan April lalu. “Betul terjadi persetubuhan dan pemerkosaan. Setelah kita menerima laporan, langsung melakukan penyelidikan,” ungkapnya, Rabu (22/9/2021).

Setelah memeriksa saksi dan alat bukti, dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Yakni Pujiono (57) dan Wuliyono (65) warga Desa Sumbersono, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Satreskrim Polres Mojokerto menetapkan kedua tersangka pada, Jumat (16/7/2021) lalu.

“Penetapan tersangka satu minggu kemudian setelah pemeriksaan saksi dan alat bukti. Tersangka W melakukan persetubuhan dan pencabulan, kita kenakan Pasal UU Perlindungan Anak tentang Persetubuhan. Aksi tersangka dilakukan dua kali di bulan April dengan bujuk rayu,” katanya.

Setelah dianggap sempurna dan lengkap (P21), lanjut Kasat, dalam minggu ini atau paling lambat minggu depan, berkas akan dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Mojokerto. Sementara berkas tersangka P sudah di meja JPU Kejari Kabupaten Mojokerto guna dilakukan penelitian.

“P kita kenakan pasal UU Perlindungan Anak tentang Pencabulan. Memang kedua pelaku tidak ditahan, karena saat itu kasus Covid-19 di Indonesia sedang tinggi-tingginya. Sementara kedua tersangka dari segi usia sudah tua, namun kami komitmen penegakan hukum terhadap korban di bawah umur,” ujarnya.

Kasi Pidum Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko

Kasat menjelaskan, pertimbangan usia kedua tersangka dan kondisi pandemi sehingga keduanya tidak dilakukan penahanan. Namun kedua tersangka selalu hadir baik saat menjadi saksi dan ditetapkan sebagai tersangka. Kedua tersangka cukup kooperatif. Untuk tersangka W dikenakan Pasal Undang-undang Perlindungan Anak tentang Pidana Anak.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko membenarkan, pihaknya sudah menerima berkas perkara tersangka P. “Tahap I hari ini, berkas SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) baru dikirim kemarin. Kami sudah menunjuk jaksa,” jelasnya.

Pihaknya ada waktu tujuh hari untuk melakukan penelitian berkas perkara. Apakah berkas perkara sudah lengkap atau ada kekurangan. Terkait keduanya tidak dilakukan penahanan di Polres Mojokerto, menurutnya, pihaknya akan mempertimbangkan terkait penahanan keduanya.

Selasa (21/9/2021) kemarin, Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto, Muhammad Al Barra bersama Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarra mengunjungi korban persetubuhan di Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Kasus yang menimpah gadis berusia 15 tahun, berinisial PDW mendapat atensi serius dari Gus Barra (sapaan akrab, red).

Kedua tersangka yakni, Pujiono (57) dan Wuliyono (65) merupakan tetangga korban yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut. Aksi bejat kedua tersangka dilakukan sekitar bulan April 2021 lalu. Tersangka Wuliyono melakukan aksi bejatnya di ladang tebu dan memberikan uang Rp20 ribu kepada korban.

Sementara tersangka Pujiono melakukan aksi bejatnya ke rumah kosong dan memberikan uang Rp50 ribu. Polres Mojokerto menetapkan dua orang kakek dalam kasus pencabulan dan pemerkosaan pada, Jumat (16/7/2021). [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar