Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Kasus Pembunuhan di Malang, Suami Tidak Sah Bunuh Korban Dengan Sadis

Polresta Malang Kota rilis kasus pembunuhan wanita di Sukun, Kota Malang.

Malang (beritajatim.com) – Misteri kasus kematian di Jalan Emprit Mas, Sukun, Kota Malang terungkap. Polresta Malang Kota menetapkan Sofianto Liemmantoro (56) warga Sukun, Kota Malang sebagai tersangka atas kasus pembunuhan yang dia lakukan kepada RDS (56), pada Jumat (17/9/2021) lalu.

“Meninggalnya Jumat diketahui Sabtu keesokan harinya. Anaknya meras ada kejanggalan atas kematian ibu korban. Akhirnya lapor polisi, kita lakukan olah TKP dan visum ditemukanlah kesesuaian bahwa kematian ini bukanlah tiba-tiba karena ada beberapa kejanggalan,” kata Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto, Selasa, (28/9/2021).

Hasil visum menjadi petunjuk, kemudian saksi di lokasi juga mendengarkan suara teriakan korban minta tolong pada Jumat malam itu. Kemudian polisi melakukan olah TKP. Hasil interogasi polisi, tersangka ternyata mengakui membunuh korban tetapi membuat skenario seakan-akan korban tewas di kamar mandi.

“Saat kita olah TKP sebenarnya sempat kesulitan karena semua telah bersih. Pelaku ini ikut membersihkan. Jadi setelah membunuh dia tetap di rumah itu, tidak kemana-kemana. Hasil autopsi meninggL akibat pukulan benda tumpul di kepala bagian atas sebelah kanan dan kiri,” papar Budi.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Tinton Yudha Riambodo mengatakan, korban dibunuh saat sedang mandi. Dia didekap dari belakang, dipukul berkali-kali. Tetapi yang paling fatal adalah dipukul dengan palu pada bagian belakang sehingga korban meninggal dunia karena lemas.

“Pelaku merekayasa seolah-olah jatuh di kamar mandi (dalam kamar). Pelaku mengunci kamar mandi dari jendela luar menggunakan pipa dan naik ke kursi. Dia memukul berkali-kali tapi satu pukulan yang mematikan yakni dengan palu. Ini sudah direncanakan lama,” papar Tinton.

Sofianto dan RDS adalah pasangan tidak sah menjalin hubungan selam 14 tahun. Dalam 4 tahun terakhir mereka berdua pisah ranjang tapi tetap satu rumah. Tersangka sakit hati dan marah karena RDS berencana pindah rumah namun dia tidak diajak. Tersangka, terancam pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup dan atau minimal 12 tahun kurungan penjara.

“Pelaku merasa sakit hati ke korban karena selama ini hidup dengan korban merasa tidak dihargai sebagai suami siri. Merasa banyak hal yang dia tidak dihargai. Kemudian korban mau pindah rumah tapi tersangka tidak diajak di situlah dia emosi,” tandas Tinton. (luc/kun)

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar