Hukum & Kriminal

Kasus Dugaan Beras Oplosan, Polisi Periksa Saksi Ahli

Sumenep (beritajatim.com) – Penyidik Polres Sumenep masih memproses penyidikan kasus penggerebekan gudang beras yang diduga mengoplos beras untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Untuk kasus tersebut, saat ini kami tengah memeriksa saksi ahli. Jadi mohon bersabar saja dulu. Nanti kalau proses penyidikan ini tuntas, pasti kami publish,” kata Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Kamis (12/03/2020).

Sebelummya, pada Rabu (26/03/2020), Polres Sumenep menggerebek sebuah gudang beras di Jalan Merpati, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. Di gudang beras dengan nama UD Yudatama ART itu diduga terjadi pengoplosan beras BPNT.

Saat digerebek, polisi menemukan ada 10 ton beras yang sudah dioplos dan rencananya akan didistribusikan ke agen di wilayah Pulau/Kecamatan Giligenting. Beras tersebut masing-masing dibungkus dengan kemasan 5 kg sebanyak 2.000 karung. Beras itu sudah dinaikkan di atas truk bernomor polisi M 8267 UV.

Modus pengoplosan beras di gudang itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merek (beras dari petani). Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituangkan di lantai dan dicampur. Setelah itu beras disemprot dengan cairan pandan. Beras kemudian diangin-anginkan beberapa menit. Setelah kering, beras yang sudah dioplos dan disemprot pandan itu dikemas kembali dalam karung 5 kg, diberi merk Ikan Lele Super.

Sementara versi kuasa hukum pemilik gudang, Kamarullah, kliennya bukan mengoplos beras berkualitas jelek untuk mengelabui konsumen. Namun kliennya mencampur beras Bulog dan beras petani (tanpa merk) yang semuanya berkualitas premium. Pencampuran itu untuk menghasilkan kualitas yang baik dan sama rupa.

Pengemasan ulang beras tersebut karena UD Yudatama ART membeli beras dalam kemasan karung 50 kg. Sementara permintaan konsumen lebih banyak pada kemasan 5 kg. Sedangkan penyemprotan air pandan itu untuk menambah aroma demi memenuhi selera pasar. Namun pihak pengusaha memastikan bahwa cairan tambahan yang disemprotkan itu tidak akan mengganggu kualitas beras.

Menanggapi pembelaan tersebut, Widiarti memastikan bahwa penyidik Polres tidak bisa diintervensi oleh siapapun. “Silahkan orang-orang beropini apapun. Tetapi penyidik tetap profesional. Kalau sudah tuntas proses penyidikan ini, pasti akan kami buka hasilnya,” ujarnya.

Widiarti memaparkan, penyidik tengah memeriksa saksi dari Dinas Sosial, Disperindag, Perijinan, dan pihak-pihak terkait, untuk menuntaskan kasus tersebut.

“Kami juga telah mengambil sampel beras yang dioplos berikut cairan pandan yang disemprotkan, dan dikirim ke laboratorium. Kami masih menunggu hasil uji lab terhadap sampel tersebut,” jelasnya. (tem/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar