Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Kapolres Ponorogo: 2 Pelaku Telah Sebar 90 Ton Pupuk Subsidi

Barang bukti pupuk bersubsidi yang diamanka di Mapolres Ponorogo. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Praktek culas inisial BS (28) dan B (58), warga Desa Sidoarjo Kecamatan Pulung Ponorogo dalam penyalahgunaan pupuk bersubsidi sudah berjalan sejak bulan Desember tahun lalu.

Di saat petani dibatasi dalam pembelian pupuk bersubsidi, kedua pelaku tanpa merasa berdosa malah menjual seenaknya.

“Pendistribusian pupuk bersubsidi yang dilakukan kedua pelaku tidak sesuai dengan peruntukannya. Itu menyalahi aturan, maka mereka kita amankan,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur C. Wibowo, Jumat (28/1/2022).

Polisi menangkap kedua pelaku sesat melakukan transaksi pembelian pupuk bersubsidi tersebut dengan seseorang yang berasal dari Madura. Saat petugas menggeledah rumahnya, alangkah kagetnya petugas mendapati rumah pelaku dijadikan gudang untuk menimbun pupuk tersebut.

“Rumah pelaku dijadikan gudang untuk menyimpan pupuk bersubsidi itu. Kita mengamankan total 11,45 ton pupuk bersubsidi berbagai jenis,” ungkapnya.

Data yang dihimpun dari petugas Satreskrim Polres Ponorogo, selama medio bulan Desember tahun lalu hinggu kini, sudah ada 10 transaksi pembelian dari kedua pelaku. Jumlahnya pun tidak main-main, hingga mencapai 90 ton.

“Satu truk itu bisa mengangkut sebanyak 9 ton pupuk, jika sudah terjadi 10 transaksi, tentu totalnya bisa 90 ton,” kata Catur.

Diberitakan sebelumnya, Satuan reserse kriminal (Satreskrim) Polres Ponorogo mengamankan dua pelaku penyalahgunaan pupuk bersubsidi di wilayah bumi reyog. Pelaku dengan inisial BS (28) dan B (58), keduanya merupakan warga Desa Sidoarjo Kecamatan Pulung Ponorogo.

“Pengungkapan kasus ini berdasarkan laporan dari masyarakat. Bahwa di daerah Pulung ada orang yang memperjualbelikan pupuk bersubsidi tanpa izin dari pihak yang lebih berwenang,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo.

Di rumah pelaku yang dijadikan gudang itu, ada ratusan sak pupuk bersubsidi berbagai merek. Yakni ada 196 sak pupuk jenis Phonska dengan berat 50 kilogram/saknya atau 9,5 ton. Kemudian ada 29 sak atau 1,45 ton dan 5 sak pupuk Urea atau 2,5 kwintal.

Pupuk-pupuk tersebut, oleh kedua pelaku dijual ecer kepada para petani di sekitar wilayah Pulung. Harga jual per saknya pun bervariasi, kisaran harga dari Rp 145 ribu hingga Rp 180 ribu per saknya. Kegiatan kedua pelaku ini jelas dilarang oleh undang-undang. Sebab yang boleh menjual pupuk bersubsidi hanya produsen, distributor, dan pengecer resmi untuk di saluran ke kelompok tani.

Para pelaku dijerat dengan pasal pasal 21 Jo pasal 30 (3) Permendag RI Nomor 15/M-DAG/PER/4/2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsisi untuk sektor pertanian Jo pasal 24 (1) Jo pasal 29 (1) Jo pasal 106 Jo pasal 107 UU nomor 7 th 2014 tentang perdagangan. Jo pasal 1 Sub 3e Jo pasal 6 (1) huruf b UU Drd nomor 7 95 tentang tindak pidana ekonomi Jo pasal 480 KUHP. Dengan ancaman pidana 2 tahun penjara.

“Ini jelas salah, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku diancam hukuman 2 tahun penjara,” pungkasnya. (end/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar