Hukum & Kriminal

Janda Dua Anak Ini Nekat Edarkan Ekstasi

Petugas kepolisian saat hendak membawa Arizanty (37) masuk ke rumah tahanan Polrestabes Surabaya, Kamis (14/1/2021).(Istimewa)

Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi ‘tulang punggung’ keluarga saat pandemi memang tak mudah. Bahkan, sejumlah orangtua nekat mengambil resiko untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau bahkan hanya sekedar mengisi perut.

Seperti yang dilakukan Arizanty (37) hingga berurusan dengan polisi. Janda dua anak itu ditangkap setelah bisnisnya sebagai pengedar ekstasi terendus. Dari wanita 37 tahun tersebut, petugas menyita 10 butir pil ekstasi.

Warga Jalan Kendangsari itu diamankan di rumah. Petugas menggerebek kediaman Arizanty setelah namanya muncul dalam pengembangan perkara kasus penyalahgunaan narkotika. Kanit Lidik I Satresnarkoba Polrestabes Surabaya, AKP Suhartono saat dihubungi beritajatim.com, Kamis (14/1/2021) menjelaskan, penggrebekan dilakukan dan petugas mengamankan 10 butir pil. Kuat dugaan pil tersebut merupakan pil ekstasi. “Pelaku diamankan usai petugas mengamankan seorang pembeli pil ekstasi dari tersangka janda dua anak ini,” ujarnya.

Pelaku Arizanty tidak bisa berkilah saat rumahnya digeledah dan mendapati pil ekstasi di dalam tas miliknya. Dalam pemeriksaan, tersangka mengaku baru sebulan menjadi pengedar. Namun, pengakuannya diragukan. Dasarnya adalah keterangan dari pembelinya. “Pembeli yang petugas amankan sebelumnya sudah empat kali transaksi,” ucap polisi dengan tiga balok di pundak tersebut.

Suhartono menuturkan, tersangka merupakan pengedar jaringan narapidana (napi) yang kini mendekam di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Namun, dia belum bisa mempublikasikannya karena masih mendalami. Yang pasti, kata dia, tersangka mendapat ekstasi dari kenalannya yang berinisial AN. Dalam penelusuran diketahui statusnya merupakan seorang napi.

Arizanty biasanya mengambil ekstasi di Jalan Demak. Suhartono memaparkan, tersangka selama ini bekerja serabutan sebagai buruh. Arizanty menjadikan bisnis ekstasi untuk mendapat penghasilan tambahan. “Janda statusnya, sudah cerai sama suami. Pelaku selalu melakukan transaksi dengan sistem ranjau. Tersangka memesan dari napi di salah satu LP (Lembaga Pemasyarakatan,red),” katanya.

Arizanty memilih menjadi pengedar narkoba sebagai jalan pintas mendapat penghasilan tambahan karena ditawari oleh AN. Mereka akrab sebagai teman. Ia menerima tawaran itu bukan hanya karena terdesak kebutuhan. Dalam penyidikan, diketahui dia juga sudah tidak asing dengan pil tersebut. “Mantan suaminya juga pemakai,” terangnya.

Suhartono mengungkapkan, penyidik tengah mendalami jejak tersangka sebagai pengedar. Arizanty disinyalir mendapat puluhan hingga ratusan pil ekstasi di setiap pengiriman. “Dugaannya seperti itu. Butuh waktu karena tersangka belum mau banyak mengaku saat diperiksa,” tuturnya. (man/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar