Hukum & Kriminal

Ini Tanggapan Kejati Jatim Soal Vonis Kebiri Kimia

Surabaya (beritajatim.com) – Putusan hukuman kebiri tiga tahun serta pidana penjara selama 12 tahun yang dijatuhkan majelis hakim PN Surabaya yang diketuai Dwi Winarko terhadap terdakwa kasus pencabulan anak yakni Rahmat Santoso Slamet mendapat tanggapan dari Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Timur M Dofir, Rabu (20/11/2019).

Mantan Kajari Surabaya ini menyatakan jika putusan tersebut sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht) maka pihaknya akan melaksanakan hukuman kebiri kimia tersebut. Namun tekhnisnya, Terdakwa harus menjalani hukuman pokok terlebih dahulu yakni 12 tahun penjara.

” Jika sudah menjalani hukuman pokok, baru Terdakwa menjalani hukuman kebiri kimia,” ujar Dofir, Rabu (20/11/2019).

Namun demikian lanjut Dofir, pihaknya masih menunggu peraturan resmi tentang petunjuk teknis pelaksanaan hukuman kebiri kimia tersebut.

Oleh majelis hakim yang diketuai Dwi Winarko menjatuhkan hukuman penjara selama 12 tahun pada Terdakwa. Selain itu hakim juga menjatuhi denda sebesar Rp 100 juta dengan subsider tiga bulan penjara.

Tak hanya itu, hakim juga menjatuhkan pidana kebiri kimia selama tiga tahun pada terdakwa. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan JPU Sabetania yang sebelumnya menuntut pidana penjara selama 14 tahun dengan denda dan kebiri sama dengan vonis hakim.

Terdakwa melakukan perbuatannya pada pertengahan 2016 hingga 2019.

Modusnya sederhana, terdakwa mengajak beberapa siswa datang ke kediamannya dengan suatu alibi memberikan binaan khusus tentang Ilmu Kepramukaan.

Sedikitnya ada 15 anak dibawah umur yang menjadi korbannya. Para korban merupakan siswa binaan ekstrakulikuler dari lima SMP dan satu SD di Kota Surabaya. [uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar