Hukum & Kriminal

Ini Pengakuan Motivator Tampar 10 Siswa SMK 2 Muhammadiyah

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander bersama tersangka Agus Setiawan.

Malang(beritajatim.com) – Polisi telah menetapkan motivator seminar kewirausahaan di SMK 2 Muhammadiyah Kota Malang, Agus Setiawan sebagai tersangka. Dia mengakui perbuatanya atas tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Agus sendiri mengaku bersalah. Dia meminta maaf kepada sepuluh siswa, dan kepada SMK 2 Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan. Dia mengaku khilaf atas perbuatanya. Meski begitu dia harus mempertanggungjawabkan perbuatanya.

Dia dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun kurungan penjara.

“Atas nama pribadi saya mohon maaf. Kejadiannya benar-benar khilaf karena selama hidup saya baru kali ini melakukan perbuatan dengan tangan. Permohonan yang teramat sangat sudah saya sampaikan saat akhir acara. Dan berikutnya karena saya merasa bersalah lagi saya kembali lagi ke aula SMK 2 Muhammadiyah untuk dipertemukan dengan 10 siswa juga,” ujar Agus.

Agus mengatakan, pada kegiatan seminar itu dia membangkitkan semangat siswa untuk memiliki jiwa wirausaha. Dalam kegiatan ini Agus, membagikan tips berjualan di media sosial. Dia diundang menjadi motivator oleh kepala SMK 2 Muhammadiyah Kota Malang, Nur Cholis.

Agus diminta membuka pola pikir siswa dalam hal wirausaha. Dalam seminar itu, dia mendapati beberapa siswa yang tidur. Dia menegur dan meminta siswa yang tidur untuk pindah ke depan. Kemudian antara Agus dan siswa membuat sebuah perjanjian.

Bila ada siswa yang membuat gaduh dan tertawa akan dipukul hingga berdarah. Tidak disangka operator seminar melakukan kesalahan tulis di papan. Hal ini membuat siswa tertawa. Perilaku siswa inilah yang membuat Agus emosi lalu menampar sepuluh siswa.

“Jadi inti dasarnya motivasi enterpreneur adalah membuka pola berpikir. Saya berikan mindset dalam usaha di dunia online. Saat itu saya membuat perjanjian bila ada siswa yang tertidur dan tertawa lagi akan saya tampar. Ternyata siswa tertawa saat ada salah penulisan,” tandas Agus. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar