Hukum & Kriminal

Ini Alasan Polrestabes Surabaya Tembak Mati Dua Gembong Narkoba

Enam pelaku dan 16 kg lebih sabu ditunjukkan dalam gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (3/9/2020). [Foto/Manik Priyo Prabowo]

Surabaya (beritajatim.com) – Dua dari delapan pengedar narkoba terpaksa diambil tindakan tegas terukur atau tembak mati oleh Sat Narkoba Polrestabes Surabaya. Keduanya ditembak lantaran melawan menggunakan senjata tajam dan senjata api. Bahkan petugas harus berlarian menembakan sejumlah peluru untuk memeringatkan pelaku.

Hingga akhirnya di tengah lahan kosong dan gelap yang menjadi tempat persembunyian pelaku di Porong, Sidoarjo, Viky Vendy alias (VV) ditembak. Tak berhenti disitu, melalui pengembangan sejumlah ponsel pelaku, petugas Satnarkoba dari unit II dan Unit III memperoleh hasil sejumlah pelaku lain.

“Dari pengembangan ini kami mengamankan tujuh pelaku lain. Tujuh pelaku itu kita kejar dan kita tangkap. Namun kembali untuk satu pelaku berinisial DP (Dika Putranto) juga melawan menggunakan senjata api rakitan,” papar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Eddizon Isir, saat gelar perkara, Kamis (3/9/2020).

“Pelaku melawan saat kita gelandang ke rumahnya di Kecamatan Lawang, Kota Malang. Akhirnya kita ambil tindakan tegas. Karena yang bersangkutan menodongkan senjata api rakitan,” lanjutnya.

Dari hasil pengembangan itu, petugas berhasil mengamankan 17,05 kg sabu, enam mobil dan dua sepeda motor. Sedangkan enam pelaku yang masih hidup yakni, ZD (47) warga Wirabumi Sidoarjo, LA (27) perempuan warga Tenggumung Wetan Surabaya, VV (20) warga Kalilom Lor Indah Surabaya, NV (24) warga Karangbong Sidoarjo, RC (26) warga Pulo Wonokromo Surabaya, BS (36) dan MF (32) keduanya warga Balongsari Krajan Surabaya, serta DP (46) warga Perum Tumampel Regency Malang.

“Enam pelaku ini salah satunya adalah Novandi yang sempat kejar-kejaran dengan petugas di Jalan Pantura Lamongan. Selanjutnya para pelaku ini akan diganjar pasal 112, dan 114 UU RI no 35 tahun,” papar lulusan Adimakayasa 2005 ini.

Sementara Kasatres Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Memo Ardian mengatakan bahwa gembong narkoba kebanyakan memiliki senjata api. Baik itu senjata api rakitan maupun senjata air soft gun. Dalam proses penangkapan pelaku jaringan lapas di Sidoarjo ini, petugas sempat melakukan kejar-kejaran mobil. Tak hanya itu, petugas juga harus melakukan profileing (mendata) pelaku dengan data base Polri.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui data pelaku kejahatan sebelumnya. Tak hanya melihat apakah pelaku seorang residivis. Tapi petugas juga mengecek apakah pelaku memiliki riwayat melawan dengan polisi saat perkara sebelumnya.

“Kita wajib profileing karena ini menyangkut keselamatan petugas juga. Jika salah langkah memprofile pelaku, maka bisa jadi keselamatan petugas akan terancam,” tegasnya. [man/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar