Hukum & Kriminal

Ini Alasan Kasus Perceraian di Ponorogo Tinggi

Panitera PA Ponorogo Ishadi (foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Angka perceraian di Ponorogo bisa dibilang cukup tinggi. Dari data Pengadilan Agama (PA) Ponorogo, tercatat ada 1.317 perceraian yang telah diajukan ke PA. Jumlah tersebut diajukan dari awal tahun, hingga bulan Agustus.

“Dari jumlah itu, perceraian yang sudah diputus Pengadilan Agama Ponorogo sebanyak 1.087 kasus, sisanya masih dalam proses,” kata Panitera PA Ponorogo Ishadi, Rabu (16/9/2020).

Ishadi menjelaskan, faktor tertinggi penyebab perceraian didominasi permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi menempati peringkat teratas alasan berpisah, yakni ada 784 kasus. Kemudian 197 kasus ditengarai salah satu pihak meninggalkan pasangannya. Pertengkaran terus menerus menempati urutan ketiga dengan 150 kasus. “Jadi alasan klasik masalah ekonomi mendominasi pengajuan cerai ke PA Ponorogo,” katanya.

Ishadi menyebut sejak dulu yang terbanyak cerai gugat. Artinya dari pihak istrilah yang mengajukan pertama kali perceraian tersebut. Data PA Ponorogo dalam 8 bulan terakhir, ada 966 kasus merupakan cerai gugat. Dan sebanyak 351 kasus merupakan cerai talak.

Ishadi menolak jika tingginya angka perceraian di Ponorogo tahun ini karena gara-gara pandemi Covid-19. Diakuinya, dari tahun ke tahun memang angka perceraian di bumi reyog cukup tinggi. Jadi tidak hubungannya tingginya angka perceraian dengan pandemi Covid-19 yang mengglobal ini. “Biasanya mereka yang bercerai ini sudah ada masalah rumah tangga yang berat. Jadi pandemi Covid-19 tidak berpengaruh,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar