Hukum & Kriminal

IDI Mojokerto Akan Cabut 3 STR Oknum Dokter Cabul, Jika..

Ketua IDI Cabang Mojokerto, dr Rasyid Salim SpKJ

Mojokerto (beritajatim.com) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Mojokerto akan mencabut Surat Tanda Registrasi (STR) jika oknum dokter yang dilaporkan kasus persetubuhan dan pencabulan terbukti bersalah. Jika tiga STR dicabut, maka oknum dokter tersebut tidak bisa buka praktik.

Ketua IDI Cabang Mojokerto, dr Rasyid Salim SpKJ mengatakan, IDI punya sidang khusus di komisi, yakni Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Cabang dan Wilayah. “Kalau sudah, kita akan tentukan. Kalau memang berat sampai pencabutan izin STR, tidak boleh praktik di mana-mana,” ungkapnya, Senin (25/12/2019).

Masih kata dr Rasyid, setiap dokter memiliki tiga STR untuk pratik. Jika tiga STR dicabut, lanjut Dr Rasyid, itu hukuman paling berat bagi seorang dokter. Namun IDI tidak mencampuri urusan hukum yang sedang berjalan. Antara hukum dan kode etik kedokteran dipisah.

“Hukum polisi kita pisah, hukum ya udah hukumnya, kode etik kita. Jika anggota kita memang melanggar maka kita sidangkan kode etik. Hukum berbeda, hukum urusan polisi. Kita tidak bisa membela. Organisasi profesi hanya mengurus etik dan profesi saja. Kalau personality tidak, kita tidak ikut campur,” katanya.

Kalau memang masuk dalam etik IDI, lanjut Rasyid, maka etik ranahnya IDI dan sangat berat hukumannya. Pihaknya berharap agar kasus oknum dokter tersebut tidak sampai ke ranah tersebut, karena etik akan sampai pusat. Karena jika terbukti maka akan ada pencabutan tiga STR.

“Takutnya, hukum ya, etik ya. Kepolisian tidak mengadili kode etik kedokteran. Kode etik urusan kita, kalau dilakukan pada saat praktik, antara dokter dan pasien. Pada saat itu dilakukan asusila dia kena, tidak hanya asusila hukum KUHP saja, tapi etik kita juga. Kita akan konfirmasi dulu ke yang bersangkutan benar atau tidak,” ujarnya.

Pasalnya, lanjut dr Rasyid, yang bersangkutan masih dipanggil ke Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) untuk dimintai keterangan. POGI adalah organisasi yang menaungi dokter kandungan. IDI Cabang Mojokerto saat ini masih menunggu konfirmasi dari berbagai sisi.

“Sudah (pemanggilan oleh POGI), kita nanti dikabari hasilnya. Kita menunggu saja. Bisa saja kita menunggu sampai kasus selesai. Kita juga minta bantuan polisi, kita tidak bertindak dulu, tapi kita juga bisa panggil dulu. Tapi kita tidak boleh percaya, harus dua belah pihak,” tegasnya.

Sebelumnya, oknum dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di Mojokerto dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto. Dokter dengan inisial AND (60) ini dilaporkan atas dugaan persetubuhan dan pencabulan gadis dibawah umur. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar