Hukum & Kriminal

Heboh Kabar Penculikan Anak SD di Kediri, Polisi Sebut Hoaks

Pihak Kepolisian dan TNI mengklarifikasi kabar dugaan percobaan penculikan anak SD kepada pihak sekolah dan yang bersangkutan.

Kediri (beritajatim.com) – Masyarakat Kediri dihebohkan dengan kabar dugaan percobaan penculikan anak SD. Informasi yang menyebar di media social (medsos) dan grup-grup whatsapp tersebut sangat meyakinkan karena disertai dengan video pengakuan korban kepada gurunya.

Dalam video tersebut menyebutkan bahwa korban AN siswa kelas V SDN 2 Mrican, Kota Kediri. Putra anggota TNI itu bercerita pada Kamis (20/2/2020) sekitar pukul 12.00 WIB ia pulang sekolah. Setelah keluar dari gerbang sekolah, AN menyeberang jalan ke arah utara. Selanjutnya AN berjalan kaki ke timur.

Dalam perjalanan itu, dihentikan oleh mobil berwarna hitam berhenti di sampingnya. Mobil tersebut berpenumpang sekitar empat orang. Semuanya laki-laki. Kemudian dua orang turun dari mobil. Satu diantaranya lantas bertanya letak SPBU Maron pada AN.

Dalam kondisi pintu mobil terbuka, AN melihat ada dua orang anak di mobil dalam kondisi tersekap. Pria tersebut masih memegang pundak AN sambal mengajak masuk ke dalam mobil untuk menunjukkan letak SPBU Maron.

Pria tersebut sempat mengiming-imingi enam buah permen. Tetapi AN berusaha melaskan diri. Setelah mendorong memakai sikunya, AN langsung berlari. Sementara dua orang pria yang sempat mengejarnya akhirnya pergi, ketika melihat ada orang pria berada di teras Bank Jatim.

Perihal kabar tersebut, Polresta Kediri dan Polsek Mojoroto merespon cepat. Pihak kepolisian memastikan informasi tersebut tidak benar alias hoaks.

Kapolsek Mojoroto, Kompol Sartana mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pengecekan terhadap seluruh sumber informasi yang disebutkan dalam media social (medsos) tentang informasi percobaan penculikan terhadap siswa SDN 2 Mrican. Diantaranya, pihak sekolah dan AN sendiri.

“Kabar tersebut tidak benar alias hoaks. Kami sudah mengecek semuanya. Karena informasi tersebut telah beredar luas dan menimbulkan keresahan, kami minta masyarakat tetap tenang dan tidak mempercayai kabar tersebut,” pinta Kompol Sartana, Jumat (21/2/2020).

Sumber pertama yang diklarifikasi adalah Andik Kristianto, satpam SDN 2 Mrican. Warga RT 04/ RW 04 Kelurahan Mrican itu justru mengetahui informasi tersebut dari medsos di HP milik istrinya, pada sore hari sepulang kerja. Padahal, saat dirinya mengantar para siswa tidak terjadi apa-apa.

“Andik secara pasti tidak mengetahui kejadian tersebut. Namun berita di luar sudah beredar luas. Dirinya sebagai satpam hanya mengantar siswa sampai di depan gerbang sekolah dan menyeberangkan ke pinggir jalan,” tegas Sartana.

Pihak kedua petugas adalah Puryani, guru SDN 2 Mrican. Warga Perumahan Wilis, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu menerima informasi dari siswanya AN tentang kabar tersebut. Tetapi, keterangan tersebut tidak didukung oleh saksi-saksi lain. Sebagai guru pendidik, Puryani akan memberikan pemahaman kepada seluruh walimurid untuk tetap waspada.

“Kami juga mengklarifikasi langsung kepada si anak. Kita tanya dengan perlahan untuk menceritakan,” imbuh Kapolsek. Kepada anggota Polsek Mojoroto, AN bercerita bahwa dia pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah menyeberang jalan kea rah utara, kemudian AN berjalan kaki ke timur.

AN kemudian dihampiri pengemudi kendaraan berwarna hitam dengan penumpang sekitar empat orang. Semuanya laki-laki. Lalu, satu orang turun mendekatinya. Pria tersebut kemudian bertanya letak SPBU Maron. AN mengaku sempat dipegang pundaknya. Tetapi tidak ada rasa takut.

Kemudian setibanya didepan Bank Jatim, AN bercerita kepada ibunya tentang hal tersebut. Selanjutnya informasi tentang percobaan penculikan anak SD tersebut tersebar luar.

“Setelah kami melakukan pengecekan di lapangan, tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut yang mengarah ke percobaan penculikan karena sumber berawal AN,” tandas Kapolsek.

Namun berita sudah beredar seolah-olah kejadian tersebut terjadi dan warga sekitar merasa resah dengan munculnya kabar itu. Untuk meyakinkan kejadian tersebut sangat minim tingkat kepercayaan kepada sumber karena dua alat kesaksian tidak mendukung.

“Untuk mencegah keresahan, kepada masyarakat agar tidak menyebar luaskan berita itu. Kemudian kepada orang tua dan guru, supaya tidak mengirimkan pesan yang tidak benar tersebut kemana-mana. Kami masih menyelidiki kejadian ini,” tutupnya. [nm/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar