Hukum & Kriminal

Hakim Tolak Permohonan Imam Santoso untuk Urus Perusahan di Pasuruan

Surabaya (beritajatim.com) – Meski status tahanannya sudah dialihkan menjadi tahanan kota oleh hakim yang memimpin persidangan, namun tak lantas membuat Imam Santoso berpuas diri. Dia malah meminta majelis hakim agar mengizinkan dirinya mengurus perusahaannya yang ada di Pasuruan.

“Boleh tidak saya ke Pasuruan untuk mengurus perusahaan,” pinta terdakwa Imam Santoso ke majelis hakim dalam persidangan di ruang sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (11/5/2021).

Kontan saja, Ketua Majlis Hakim I Ketut Tirta langsung meminta terdakwa Imam Santoso untuk membaca penetapan pengalihan penahananya, yang berstatus tahanan kota. Artinya, terdakwa tidak boleh meninggalkan Kota Surabaya, sesuai dengan identitas terdakwa yang tinggal di Jalan Sumatera Nomor 48 Surabaya.

“Baca itu penetapan penahanan kota suadara,” ketus hakim I Ketut Tirta pada terdakwa diruang sidang Sari 2 PN Surabaya.

“Jadi tidak boleh ya pak,” sahut terdakwa Imam Santoso yang terkesan masih belum puas dengan sikap majelis hakim.

Diketahui, terhitung sejak Rabu (5/5/2021) status tahanan terdakwa Imam Santoso dialihkan menjadi tahanan kota, yang sebelumnya berstatus tahanan negara karena ditahan sejak proses penyidikan di Kepolisian dan pelimpahan tahap II di Kejaksaan.

Status tahanan kota tersebut dikabulkan atas permohonan tim penasihat hukum ketika kasusnya mulai disidangkan, dengan agenda pembacaan nota eksepsi. Permohonan pengalihan status tahanan kota itu dikabulkan dengan dalih terdakwa memiliki riwayat sakit hepatitis dan hipertensi serta danya penjamin dari dari anak dan saudara (kakak) dari terdakwa.

Selain itu, terdakwa Imam Santoso berjanji tidak akan melarikan diri dan tidak akan mengulangi perbuatan pidana yang sama.

Dirut PT Daha Tama Adikarya ini didudukan sebagai pesakitan atas laporan Willyanto Wijaya, yang dirugikan sebesar Rp 3,6 miliar lebih akibat sisa pesanan kayu yang dipesannya tak kunjung dikirim sejak 2017.

Pada dakwaan jaksa, uang yang telah dibayarkan ke terdakwa Imam Santoso tidak dikembalikan ke Willyanto Wijaya (korban), melainkan dipergunakan untuk kepentingan PT Randoetatah Cemerlang, yang tidak ada kaitannya dengan saksi korban. [uci/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar