Hukum & Kriminal

Guntual Laremba dan Istrinya Berikan Jawaban

Sidoarjo (beritajatim.com) – Pasutri Guntual Laremba dan Tuty Rahayu yang menjadi tersangka kasus UU ITE dijemput paksa oleh penyidik Satreskrim Polresta pada Senin (18/1/2021) dari rumahnya. Jemput paksa untuk penyertaan tahap ll perberkasan lengkap ke Kejari Sidoarjo. Kali ini, Guntual Laremba dan Tuty Rahayu memberikan jawaban dan menuntut keadilan.

Dikatakan Guntual Laremba, dirinya dan isterinya merasa dirangkap secara kejam dan tidak manusiawi oleh pihak Satreskrim Polresta Sidoarjo. Kedua merasa bukan DPO (daftar pencarian orang) atau buron.

“Kami juga bukan orang terbukti mangkir dari panggilan. Penangkapan kami dilakukan di rumah dengan penyiksaan dan penganiayaan, menggunakan alat penyiksa borgol ditarik-tarik secara bringas oleh enam orang dibantu polisi berpakaian dinas. Apakah penyiksaan ini merupakan suatu yang prosedural, sementara ketentuan dalam KUHAP, Perkap No. 8 tahun 2009 dan Perkaba No 3 tahun 2014 tentang SOP pemanggilan dan penangkapan tidak demikian,” kata Guntual melalui rilisnya yang diterima oleh beritajatim.com Senin (25/1/2021).

Guntual menambahkan, pemanggilan pertama sudah ia hadiri dengan bukti surat penundaan tertanggal 18 Februari 2020 yang diterima dan ditanda tangani oleh Kanit AKP Hafid apakah ini benar dirinya tak kooperatif.

“Sedangkan panggilan kedua kami tidak pernah terima. Padahal ketentuan pada Perkap No 8/2009 Perkaba No 3/2014 yang dipanggil atau keluarganya harus membubuhkan tandangan sebagai bukti sudah diterima. Sehingga panggilan kedua tersebut secara resmi kami baru terima tanggal 18-01-2021 setelah ditangkap,” urainya Guntual bersama Tuty Rahayu.

Masih menurut Guntual, sesuai keterangan Kanit AKP Hafid, penangkapan dengan melakukan penyiksaan, adalah atas rekom dari Kompolnas dan Propam Mabes Polri. “Setelah kami datang ke Kompolnas dan Paminal Mabes Polri, kedua institusi tersebut mengatakan tidak benar pernah mengeluarkan rekom untuk menangkap masyarakat,” tukasnya.

Guntual dan Tuty Rahayu berkesimpulan, keduanya tetap tidak terima perlakuan yang tidak manusiawi dari para penegak hukum yang arogan dan sangat melecehkan.

Kesempatan sebelumnya, Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Wahyudin Latif menyebut bahwa Guntual dan istrinya memang sudah lama ditetapkan menjadi tersangka dengan jeratan pasal 45 ayat 3 jo Pasal 37 ayat 3 tentang ITE, atau Pasal 310 KUHP jo 207 KUHP atau 316 ayat 1.

“Sudah ditetapkan jadi tersangka sejak tahun 2019. Bahkan, pada 29 Oktobet 2019 perkaranya sudah P21. Namun selama ini tidak pernah ditahan, karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun,” terang Wahyudin Latif.

Untuk proses tahap dua atau penyerahan ke Kejari Sidoarjo, pihaknya perlu menghadirkan tersangka. Namun tersangka tidak kooperatif.

“Dua kali kami panggil, tanggal 6 Februari 2020 tidak hadir dan 7 Juli 2020 tidak ada tanggapan,” ungkapnya menjelaskan.

Dengan alasan itulah, Senin (18/1/2021) pagi petugas Satreskrim Polresta Sidoarjo melakukan penangkapan di rumah tersangka. Nah, saat proses penangkapan itu tersangka dan keluarga berusaha menolak. Dan prosesnya sempat direkam video secara live di akun IG @sintaangelica, sehingga viral.

Menurut Wahyudin Latif, beberapa saat setelah penangkapan itu dua tersangka langsung diproses dan diserahkan ke kejaksaan. Dan ternyata, setelah diterima oleh pihak kejaksaan, dua tersangka itu juga tidak ditahan oleh petugas kejaksaan.

“Proses di kepolisian tidak ditahan. Setelah dilimpahkan ke kejaksaan, juga oleh jaksa tidak ditahan kok,” sambung dia.

Tentang kasus yang menjerat dua tersangka itu, dijelaskan bahwa penyidikan polisi berdasar laporan dari Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo. Laporan itu atas nama institusi, yakni PN Sidoarjo.

Sekitar Agustus 2018 lalu, Guntual dan istrinya disebut membuat gaduh dalam proses persidangan di PN Sidoarjo. Kegaduhan itu kemudian diviralkan oleh mereka di media social. Dari sanalah PN Sidoarjo yang merasa dirugikan kemudian melapor ke Polresta Sidoarjo.

“Jadi, semua sudah sesuai prosedur. Berawal dari peristiwa di PN Sidoarjo, kemudian dilaporkan ke kami dan kami melakukan penyelidikan serta penyidikan. Sudah ditetapkan tersangka, sudah P21, dan penjemputan itu untuk keperluan penyerahan tahap 2 ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo,” paparnya menutup. [isa/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar