Hukum & Kriminal

Gerebek ‘Home Industri’ Petasan, Polisi Sita Satu Karung Belerang

Pemilik home industri petasan Samsul Huda saat menunjukkan sejumlah barang bukti kepada Kapolres Jombang AKBP Boby Pa'ludin Tambunan, Rabu (29/4/2020)

Jombang (beritajatim.com) – Polres Jombang menggerebek home industri petasan yang ada di Desa Keras, Kecamatan Diwek. Hasilnya, selain menangkap pemilik industri rumahan itu, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya satu karung belerang yang merupakan bahan baku pembuatan petasan.

Adalah Samsul Huda (37), pemilik usaha pembuatan mercon tersebut. Dia tidak bisa berkutik ketika digelandang petugas ke kantor polisi. Samsul juga mengakui bahwa dirinya pemilik usaha berbahaya tersebut. Pasalnya, memproduksi petasan saat puasa hingga lebaran keuntungannya cukup menjanjikan. Petasan-petasan tersebut oleh Samsul dijual ke luar kota.

“Penggerebekan ini dilakukan oleh Tim Eagle Resmob Polres Jombang pada Jumat (24/4/2020) malam. Awalnya, tim kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa terdapat usaha pembuatan mercon di Desa Keras. Setelah itu, kami melakukan penyelidikan. Apalagi, Desa Keras memang sudah lama dikenal sebagai desa pembuat mercon,” kata Kapolres Jombang AKBP Boby Pa’ludin Tambunan, Rabu (29/4/2020).

Bubuk petasan yang disita dari home industri di Desa Keras Kecamatan Diwek, Rabu (29/4/2020)

Ternyata informasi dari masyarakat tersebut benar adanya. Karena dalam penyelidikan, petugas mendapati usaha mercon milik pelaku. Tak menunggu waktu lama, penggerebekan pun dilakukan. Samsul yang tak menyangka kedatangan tim Resmob, kaget bukan kepalang.

Dia tidak bisa mengelak tuduhan polisi. Apalagi, di rumah Samsul, korps berseragam coklat menemukan sejumlah barang bukti. Di antaranya, satu karung belerang dengan berat 50 Kg, timbangan, batu lumpang berikut penumbuknya, 170 bungkus obat mercon yang masing-masing seberat 0,5 Kg, serta 40 bendel sumbu mercon.

Selain itu, 5 Kg serbuk arang, 6 Kg serbuk brown, saringan/ayakan, kursi plastik, ember, centong kecil, serta timba. “Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 1 ayat (1) Undang-undang Darurat RI No 12 Tahun 1952. Ancamannya, hukuman penjara paling lama 12 tahun,” pungkas Boby. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar