Hukum & Kriminal

Geledah Rumah Bos PT Amoeba Kediri, Polres Lumajang Dipraperadilkan

Kediri (beritajatim.com) — Direktur PT Amoeba Kediri, Gita Hartanto mengajukan gugatan pra peradilan terhadap Polres Lumajang ke Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (30/10/2019).
Gugatan tersebut ditempuh, lantaran tindakan Satreskrim Polres Lumajang dalam melakukan penggeledahan dan penyitaan sejumlah barang, beberapa waktu lalu dinilai tidak sesuai prosedur hukum.
Gugatan pra peradilan terhadap institusi Polri ini didaftarkan oleh M. Solihin HD, SH, selaku Kuasa Hukum Gita Hartanto dan Hendri Faisal.
Pihak penggugat menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 100 miliar, karena usaha perdagangannya terganggu paska tindakan represif kepolisian tersebut.
“Barang buktinya banyak, ada 25 item. Salah satunya ada HP, flash disk dan laptop yang semua itu adalah milik pemohon II yang bekerja menjadi Direktur PT Akademi Wirausaha Indonesia. Dan barang ini tidak ada hubungannya dengan barang bukti perkara yang saat ini ditangani Polres Lumajang,” jelas Solihin.
Menurutnya, kasus itu seakan dipaksakan oleh Satreskrim Polres Lumajang. Sebab, berdasarkan berita acara kasus tindak pidana perdagangan dengan sistem Multi Level Marketing (MLM) atas nama Gita Hartanto tanpa dilengkapi izin berupa SIUPL yang ditangani Polda Jawa Timur sudah dikeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sejak tahun 2017 silam.
Bahkan Bareskrim Polri juga pernah melakukan penyelidikan tindak pidana penerapan sistem skema piramida dalam mendistribusikan barang atas nama Gita Hartanto, direktur PT Amoeba Internasional, juga dihentikan penyelidikannya karena bukan merupakan tindak pidana.
“Mengapa kami ajukan praperadilan, sebab perkara yang ditangani oleh pihak penyidik hal ini Polres Lumajang sebelumnya pernah ditangani oleh pihak Mabes Polri dan Polda Jawa Timur dan keduanya telah menghentikan perkara ini. Pertanyaan kami, dasar apa pihak Polres Lumajang melakukan penyelidikan. Artinya disini ada upaya secara paksa yang di luar prosedur hukum acara yang dilanggar sendiri oleh penyidik,” jelasnya.
Atas dasar tersebut dalam permohonan gugatannya, Solihin meminta PN Kabupaten Kediri menghukum termohon gugatan dan mengembalikan barang sitaan tersebut serta menuntut ganti rugi material sebesar Rp 100 miliar.
“Dari kejadian ini selama tiga bulan terakhir perusahaan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Kita minta mereka membayar ganti rugi material Rp 100 miliar,” tegasnya.
Diketahui, Tim Cobra Satreskrim Polres Lumajang melakukan pengembangan kasus PT Amoeba Internasional yang diduga melakukan penipuan berkedok bisinis Multi Level Marketing (MLM) di kawasan Lumajang, Jawa Timur.
Dalam kasus itu PT Amoeba Internasional mendistribusikan barang menggunakan brand Q-Net. Atas kasus itu polisi juga menggeledah beberapa rumah atau kantor Q-Net di beberapa daerah. Polisi menduga PT Amoeba Internasional menjadi pendukung sistem operasional PT QN International Indonesia (Q-Net). [nng/ted]




Apa Reaksi Anda?

Komentar