Hukum & Kriminal

Film ‘Slenderman’ Menginspirasi Pembunuhan? Begini Tanggapan Dosen Komunikasi Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus pembunuhan yang dilakukan remaja usia 15 tahun kepada balita (5) di Jakarta membuat heboh masyarakat Indonesia. Terlebih berdasarkan pemberitaan, motiv pembunuhan tersebut terinspirasi dari film horror thriller, yaitu Slenderman dan Chucky.

Melihat hal itu, salah satu dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Nisa Kurnia Illahiah, S.Sos., M.Med.Kom memberikan tanggapannya dari segi perfilman.

Berdasarkan teori efek media klasik hingga kontemporer, Nisa, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tidak pernah ada yang menyatakan apabila media (dalam hal ini film) dapat memberikan pengaruh langsung yang sifatnya replika duplikasi atau meniru adegan film. Artinya, dapat dikatakan bahwa ada variabel lain dari sisi pelaku itu sendiri yang melatarbelakangi tindakan pembunuhan tersebut.

“Di sini saya melihat bahwa film itu sebagai media penguat, bukan alasan utama,” jelasnya.

Lebih lanjut, dosen yang mengampu mata kuliah Media Budaya dan Masyarakat Urban itu memaparkan yang dimaksud sebagai media penguat adalah film menunjang tindakan dengan memberikan gambaran bagaimana cara membunuh atau eksekusinya. Sedangkan faktor utama yang melatarbelakangi pembunuhan itu kembali pada sisi psikologis pelaku, kondisi keluarga, dan lingkungan.

“Berkaca pada film Slenderman dan Chucky, pelaku justru akan berusaha sebaik-baiknya supaya tidak tertangkap. Namun hal ini berbeda dengan kasus remaja 15 tahun yang malah menyerahkan diri ke kantor polisi, sehingga tidak match kalau kita menyalahkan film sebagai faktor tunggal terjadinya pembunuhan.

Sebaliknya, faktor utama itu ada pada sisi kejiwaan pelaku,” terangnya.

Nisa juga tidak menampik bahwa film dapat memberikan pengaruh terhadap pola pikir dan perilaku penontonnya, namun dia menjelaskan bahwa ada tiga tahapan untuk sampai pada tahapan replika duplikasi. Ketiga tahapan itu adalah pengetahuan, berupa gambaran tentang cara-cara suatu tindakan; sikap, yaitu latar belakang pelaku yang dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan, keluarga, agama, dan lingkungan; serta perilaku, yaitu tindakan meniru adegan di film yang memperhatikan konteks ruang dan waktu.

“Jika pelaku mempunyai background pengetahuan agama yang kuat, kondisi keluarga dan lingkungan yang baik dan penuh perhatian, serta tidak memiliki gangguan kejiwaan maka efek film itu hanya berhenti pada tahap sikap, sehingga tahap perilaku berupa pembunuhan itu tidak akan terjadi,” jelasnya.

Terakhir, Nisa menerangkan bahwa tidak ada kriteria khusus dalam pemilihan film yang cocok untuk ditonton anak-anak. Hal itu dikarenakan tayangan kartun pun banyak yang memperlihatkan adegan kekerasan dan bullying, sehingga menurut ibu dari dua anak itu yang terpenting adalah kontrol pengawasan dan penjelasan kepada anak-anak. Apalagi mengingat bahwa usia anak-anak masih susah untuk membedakan realita imajinasi dan kenyataan, serta memiliki kecenderungan meniru yang besar.

“Selain peran orangtua, saya juga berharap pemerintah turut andil dalam memperketat lembaga sensor dan memasukkan studi media sebagai kurikulum baru bagi anak di Sekolah Dasar. Hal ini penting untuk memberikan bekal sejak dini agar anak tidak salah menginterpretasikan pesan yang disampaikan lewat film atau tayangan di TV lainnya,” pungkasnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar