Hukum & Kriminal

Eksepsi Ditolak, Stella Monica Siap Dihukum

Stela Monica saat jalani sidang

Surabaya (beritajatim.com) – Stella Monica, terdakwa kasus pencemaran nama baik melalui media sosial mengaku siap menerima hasil persidangan pada akhir nanti meski dia harus mendekam dipenjara. Hal itu dia ungkapkan usai eksepsi tim kuasa hukum terdakwa ditolak majelis hakim yang diketuai Imam Supriyadi, Rabu (19/5/2021).

Stella Monica mengaku pasrah dan menyerahkan persoalan hukum yang dia hadapi ini kepada tim penasehat hukumnya. Selain itu, terdakwa Stella Monica juga mengaku telah siap menerima konsekuensi hukum pidana penjara, jika nantinya dinyatakan bersalah karena terbukti melakukan tindak pidana pencemaran nama baik terhadap Klinik L’Viors melalui media sosial.

“Saya siap saja, jalani saja proses hukumnya,” ujar Stella.

Sementara itu, dalam putusan selanya ketua majelis hakim Imam Supriyadi menyatakan tidak bisa menerima nota keberatan yang diajukan kuasa hukum Terdakwa. Tak satupun nota keberatan Terdakwa dipertimbangkan majelis hakim, sebab menurut hakim nota keberatan tersebut sudah masuk materi perkara.

Hakim tidak sependapat terkait nota keberatan Terdakwa bahwa surat dakwaan yang disusun JPU tidak jelas, tidak lengkap dan tidak cermat karena menggunakan kalimat atau ejaan bahasa yang tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

“Tentang keberatan yang diajukan penasehat hukum terdakwa yang menyatakan bahwa surat dakwaan yang telah disusun JPU, tidak jelas, tidak lengkap dan tidak cermat, karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia serta tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), majelis hakim tidak sependapat,” ujar hakim Imam Supriyadi saat membacakan pertimbangan hukum majelis hakim, Rabu (19/5/2021).

Karena majelis hakim tidak sependapat dengan argumentasi hukum yang dipaparkan penasehat hukum terdakwa, sebagaimana telah dituangkan dalam nota keberatan atau eksepsi, maka keberatan penasehat hukum terdakwa ini haruslah ditolak dan tidak dapat diterima.

Bahasa yang digunakan JPU yang dituangkan dalam surat dakwaan, lanjut hakim Imam Supriyadi, adalah bahasa obrolan yang dilakukan terdakwa Stella Monica di media sosial, sehingga menurut pandangan majelis hakim, bahasa obrolan sebagaimana yang telah dilakukan terdakwa di media sosial tersebut, tidak perlu menerapkan kaidah Bahasa Indoneeia yang baik dan benar.

“Untuk membuktikan, bahwa bahasa yang digunakan terdakwa Stella Monica di media sosial itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana, dibutuhkan pemeriksaan lebih seksama, dengan menghadirkan saksi-saksi serta ahli yang berkompeten dibidangnya,” kata hakim Imam Supriyadi.

Bukan hanya itu. Dalam pertimbangan hukumnya yang dibacakan hakim Imam Supriyadi tersebut, majelis hakim menolak secara tegas tentang materi keberatan penasehat hukum terdakwa yang menjelaskan tentang unsur-unsur dipasal 310 KUHP dan pasal 311 KUHP yang dibuat JPU dalam surat dakwaannya, untuk mendakwa terdakwa Stella Monica.

“Apa yang menjadi keberatan penasehat hukum terdakwa terkait penerapan pasal 310 KUHP dan pasal 311 KUHP dalam surat dakwaan yang disusun JPU, hal tersebut telah masuk dalam materi oerkara, sehingga harus dilakukan pemeriksaan melalui saksi-saksi, pada persidangan berikutnya,” ungkap hakim Imam Supriyadi.

Sementara itu, kuasa hukum L’Viors, Ari Hans Simaela menyatakan, pihaknya mengapresiasi keputusan yang diambil majelis hakim, karena menolak nota keberatan yang diajukan terdakwa.

Lebih lanjut Ari mengatakan, langkah majelis hakim telah tepat karena surat dakwaan yang disusun JPU untuk mendakwa terdakwa Stella Monica, sudah sesuai prosedur yang benar.

“Kami serahkan masalah pembuktian perkara ini kepada JPU pada persidangan selanjutnya. Kita ikuti saja prosesnya hingga nanti persidangan putusan,” jelas Ari.

Ari juga meminta kepada semua pihak, baik yang terlibat secara langsung, maupun tidak langsung, supayamenghormati proses hukum dan menjaga marwah pengadilan. [uci/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar