Hukum & Kriminal

Dukun Cabuli Anak 12 Tahun Ditangkap Polres Probolinggo

Polres Probolinggo Tangkap Pelaku Pencabulan Anak

Probolinggo (beritajatim.com) – Spd (63) warga Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, pria berprofesi sebagai dukun, tega mencabuli bocah usia 12 tahun.

Terhitung 10 kali perbuatan asusila itu dilakukan Spd  terhadap korban. “Sejak Mei 2020 hingga akhirnya tersangka berhasil kita ringkus,” ujar Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Heri Sugiono, Selasa (1/09/2020).

Penangkapan Spd, sendiri berawal dari laporan orang tua korban ke Mapolsek Wonomerto. Laporan itu lalu ditindaklanjuti Kepolisian Resort Probolinggo Kota.

Hasil pemeriksaan Polisi, tersangka Spd mengiming-imingi korban uang Rp 15.000 setiap kali melakukan hubungan intim.

“Awalnya keluarga korban tidak berani melapor, karena pelaku ini berprofesi sebagai dukun (Orang Pintar-Red). Setiap kali berhubungan, korban diiming-imingi uang 15.000 rupiah,” sambung AKP Heri Sugiono.

Tak hanya mencabuli, kakek Spd  juga merekam aksi bejatnya itu dan disimpan pada sebuah flashdisk.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa pakaian korban dan pelaku serta satu unit flasdisk berisi rekaman video.

Atas perbuatannya tersangka dijerat pasal 81 sub pasal 82 UU. RI nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU. RI nomor 23 tahun 2012 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Menanggapi kasus dimaksud, Ketua MUI Kota Probolinggo KH. Nizar, mengecam keras aksi pencabulan terhadap anak. Ia menegaskan, upaya pencegahan penting agar kejadian tak terulang.

KH Nizar menambahkan, pencegahan bisa dilakukan dengan peningkatan kepedulian sosial terhadap anak-anak. Hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat, misalnya orang tua.

“Pencegahan bukan hanya sosialisasi, ndak melulu itu. Bisa program ketahanan keluarga. Jadi bagaimana keluarga itu betul-betul bisa membuat anak terjamin dalam tumbuh kembangnya di keluarga. Itu yang harus diintervensi oleh pemerintah supaya dia memiliki ketahanan dan kekuatan,” paparnya.

“Mesti dievaluasi selama ini pemerintah daerah, bahkan mungkin kecamatan punya program seperti apa untuk melakukan pencegahan dan kepedulian sosial itu,” imbuhnya.

Tak hanya itu, proses rehabilitasi dan pendampingan untuk korban penting. Namun, jangan sampai kasus pencabulan ini terlanjur terjadi. KH Nizar menekankan proses pencegahan lebih penting. (eko/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar