Hukum & Kriminal

Dugaan Penipuan Rekrutmen PNS, Ketua Komisi 3 DPRD Kabupaten Mojokerto Diperiksa

Mojokerto (beritajatim.com) – Ketua Komisi 3 DPRD Kabupaten Mojokerto, Aang Rusli Ubaidillah memenuhi panggilan polisi untuk mengklarifikasi kasus dugaan penipuan rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menjerat dirinya. Ada tiga korban yang melapor ke Polres Mojokerto pada 4 April 2019 lalu.

Politisi Partai Demokrat ini datang seorang diri ke kantor Satreskrim Polres Mojokerto. Selama 2,5 jam, Aang berada di ruang penyidik. Namun Aang enggan menjawab pertanyaan sejumlah wartawan yang sudah menunggu.

“Sudah saya sampaikan ke polisi, silakan tanya sendiri,” kata Aang sembari masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan kantor Satreskrim Polres Mojokerto, Rabu (19/6/2019).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Muhammad Solikhin Fery menjelaskan, kasus dugaan penipuan rekrutmen PNS yang menjerat Aang masih dalam tahap penyelidikan. “Poinnya dia mengakui itu sebagai pinjaman. Keterangan dia seperti itu,” katanya.

Pihak kepolisian meminta klarifikasi Aang terkait laporan korban. Aang menyatakan uang yang dia terima dari korban adalah pinjaman. Namun, tidak dijelaskan lebih rinci lantaran menjadi materi penyelidikan. Kasat menuturkan jika keterangan tersebut berbeda dengan pernyataan saksi dan korban.

“Nanti kami konfrontasi, masing-masing keterangan didukung bukti apa,” tegasnya.

Ada tiga orang yang mengaku menjadi korban dugaan penipuan rekrutmen PNS Aang Rusli Ubaidillah yakni Mudji Rokhmat (63) warga Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Siti Khoyumi (52) warga Desa Beloh, Kecamatan Trowulan dan Irwan Siswanto (39), warga Perumda Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Mudji dan Siti diminta Aang membayar agar anak mereka menjadi PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Sementara Irwan diminta Aang membayar agar keponakannya menjadi pegawai honorer di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto.

Mudji menyetorkan uang Rp65 juta dalam dua tahap. Berdasarkan bukti kwitansi yang disimpan kuasa hukum korban, uang Rp50 juta diserahkan ke Aang pada 20 Mei 2015, sedangkan Rp15 juta diserahkan 17 Juni 2015. Uang tersebut diserahkan di rumah Aang secara langsung.

Sementara Siti menyerahkan uang Rp70 juta secara langsung ke Aang pada 4 Maret 2018. Namun, kwitansi bermaterai yang dia siapkan tak ditandatangni oleh Aang. Korban Irwan menyerahkan uang Rp28 juta kepada Aang. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar