Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dugaan Kekerasan Seksual di Unej Terungkap di Medsos

Foto ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Setelah sempat dihebohkan kasus kekerasan seksual yang berujung pada vonis penjara salah satu dosen, dugaan kekerasan seksual di Universitas Jember, Kabupaten Jember, kembali terungkap. Kali ini korbannya mahasiswa perempuan dan terduga pelakunya adalah mahasiswa laki-laki yang lebih senior dua tingkat.

Peristiwa ini terjadi pada 12 April 2019, dan baru diungkapkan suami penyintas dua tahun kemudian di media sosial. “Saat ini penyintas dan suaminya tinggal di Jogja. Penyintas pindah kuliah dari Unej ke salah satu perguruan tinggi di sana,” kata Abdur Rahman Wahid, juru bicara Koalisi Tolak Kekerasan Seksual, Jumat (31/12/2021).

Peristiwa kekerasan seksual terjadi, usai terduga pelaku mengantar penyintas membeli USB charger ponsel. Terduga pelaku membeli anggur merah dan meminta penyintas menemaninya minum. Penyintas menolak dan minta agar diantarkan pulang. Bukannya mengantarkan pulang, terduga pelaku justru membawa penyintas ke salah satu penginapan di sekitar stasiun Jember.

Di sana, terduga pelaku kembali memaksa penyintas menenggak anggur merah itu di dalam kamar. Namun penyintas menolak dan memilih membaca buku Dunia Anna karya Jostein Gaarder.

Tiba-tiba, terduga pelaku memaksa mengambil buku yang sedang dibaca itu dan mendorong penyintas ke kasur. Penyintas tidak kuasa untuk melawan, saat pelaku berusaha mencium bibirnya. Terduga pelaku berusaha melucuti baju penyintas dan berusaha melakukan penetrasi kelamin. Namun upaya itu gagal. Akhirnya, terduga pelaku mengajak penyintas pulang.

Sampai di depan kos penyintas, terduga pelaku melontarkan ancaman. Penyintas diminta tutup mulut dan tidak memberitahukan kejadian malam itu kepada orang lain. Ancaman tersebut membuat penyintas trauma.

Setelah dua tahun bungkam, peristiwa itu terungkap dan diserahkan kepada Pusat Studi Gender Universitas Jember untuk ditindaklanjuti. “Kami mendukung Universitas Jember untuk segera melakukan mekanisme yang berlaku sesuai dengan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021,” kata Rahman. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar