Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dugaaan Kekerasan Seksual di Unesa, Begini Sikap GMNI Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus kekerasan seksual yang muncul pada lembaga pendidikan Perguruan Tinggi akhirnya sampai di Surabaya. Ini merupakan sebuah pukulan besar di awal tahun 2022.

Terlebih lagi kasus pertama muncul di Perguruan Tinggi dengan mottonya “Growing with Character” yaitu Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Padahal Kampus yang notabene merupakan tempat bersama dalam menimba ilmu sudah semestinya menjadi tempat yang aman dan berkeadilan.

DPC GMNI Surabaya memberikan pernyataan sikap terkait kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang dipublikasi di Official akun @gmnisurabaya, Rabu (12/1/2022).

Dalam pernyataan sikapnya GMNI Surabaya turut menyesal atas kasus kekerasan seksual yang terjadi pada Mahasiswi Unesa.

“GMNI Surabaya turut menyesalkan atas terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Berdasarkan Kronologi, kekerasan seksual dilakukan oleh dosen H dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) kepada mahasiswa A jurusan Hukum di tengah proses penyelesaian skripsi,” bunyi dari pernyataan sikap tersebut.

Sekretaris Jenderal DPC GMNI Surabaya Miftahul Akbar mengatakan bahwa dirinya menyayangkan dan mengutuk keras adanya kasus kekerasan seksual di lingkup kampus Unesa.

“Sebagai Mahasiswa dari Fakultas terkait yaitu FISH saya pun ikut menyayangkan atas terjadinya kasus ini. Pasalnya kampus sebagai tempat mengejar cita-cita malah menjadi tempat yang tidak aman dan justru berpotensi menghambat. Apalagi ini terjadi di fakultas dengan landasan ilmu sosial dan hukum. Tentu saja saya mengutuk keras adanya kejadian seperti ini dalam Perguruan Tinggi khususnya Unesa,” kata Akbar.

Sementara itu, Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPC GMNI Surabaya Mas Uliatul Hikmah mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah cepat tanggap Unesa dalam menindak lanjuti kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kampus.

“GMNI Surabaya mengapresiasi Unesa dalam memberikan langkah cepat tanggap dalam memproses kasus kekerasan seksual di Unesa. Kasus ini awalnya diunggah oleh akun instagram @dear_unesacatcallers pada 6 Januari 2022 namun pelaku sudah dinonaktifkan per tanggal 10 januari 2022,” ungkapnya.

Alumni Unesa tersebut berujar, kasus kekerasan seksual bisa saja terus bermunculan karena para penyintas mulai mempunyai keberanian karena berkaca dari penanganan cepat dan tepat yang diberikan kampus dan dukungan Permendikbudristek tentang PPKS.

“Kasus pertama ini menjadi triggered bagi penyintas lainnya untuk speak-up (bicara ke publik.red). Apalagi pihak kampus memberikan penanganan cepat dan tepat ditambah lagi kepastian hukum melalui Permendikbud Ristek tentang PPKS,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan memastikan dan turut mengawal kasus kekerasan seksual yang terjadi di Surabaya khususnya di perguruan tinggi. Pihaknya juga berharap bahwa RUU TPKS segera disahkan agar para penyintas mendapatkan kepastian hukum.

“Sesuai dengan Pernyataan Sikap GMNI Surabaya, kami akan pastikan dan kawal kasus kekerasan seksual yang terjadi di Surabaya khususnya perguruan tinggi mengingat perguruan tinggi harusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman dalam menempuh pendidikan. Maka dari itu DPC GMNI Surabaya mendorong DPR RI untuk segera mengesahkan RUU TPKS sebagai kepastian hukum bagi para penyintas,” tandasnya. [asg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar