Hukum & Kriminal

Dua Produsen Obat Kuat Segera Disidang

foto/ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Dua produsen obat kuat ilegal yakni Candra Surya dan Andreas diserahkan (tahap dua) penyidik Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Jatim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Selasa (23/6/2020).

Kasi Pidum Kejari Surabaya Fariman Isandi Siregar menyatakan pihaknya menerima pelimpahan tahap dua perkara penjualan jamu ilegal dari Polda Jatim. “Dengan barang bukti sekitar lima dus berisi jamu kuat ilegal,” ujar Farriman, Selasa (23/6/2020).

Fariman menambahkan kedua tersangka dijerat pasal 196 atau pasal 197 UU Nomer 36 tahun 2009 tentang kesehatan. “Keduanya ditahan dan titipkan di rutan polda jatim selama 20 hari,” pungkasnya.

Untuk diketahui, industri rumahan produsen obat kuat digerebek Polda Jatim di Surabaya, Senin (24/2/2020). Selain tidak memiliki izin produksi, usaha tersebut menurut polisi juga tidak memiliki izin edar.

Pemilik usaha berinisial C diamankan polisi dalam penggerebekan di komplek perumahan Babatan Pilang, Kecamatan Wiyung tersebut, berikut sampel barang bukti produk obat kuat siap edar, bahan baku, kemasan produk dan alat timbang.

Dalam kasus itu, C memanfaatkan dua rumah di komplek perumahan tersebut dalam menjalankan usahanya. Satu untuk gudang penyimpanan produk, dan satu lagi untuk produksi. Dibantu 2 karyawannya, C mengemas obat kuat dengan berbagai merek seperti King Cobra, Raja Madu, dan Gatot Kaca.

Produk-produk tersebut didistribusikan ke berbagai daerah di Jawa Timur. Dalam pemeriksaan di gudang, polisi juga menemukan alat seks untuk wanita. “Dalam sebulan, pemilik usaha bisa meraih untung Rp 10 juta lebih,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jatim, Kombes Cornelis M Simanjuntak, di lokasi penggerebekan waktu itu.

Menurutnya, produk obat kuat diproduksi secara mandiri sejak 2 tahun terakhir. “Selain menggunakan bahan herbal, pelaku menambahkan bahan sildenafil yang berfungsi meningkat vitalitas pria,” ujar dia.

Dalam mencampur ramuan herbal dengan zat kimia itu, pelaku tidak memenuhi kaidah medis yang berlaku. “Penggunaan sildenafil seharusnya menggunakan resep dokter. Bahaya jika digunakan sembarangan,” ujar dia. Pelaku dijerat Pasal 196 dan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. [uci/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar