Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dua Anak di Bawah Umur Dianiaya, Ortu Lapor Ke Polres Magetan

Y saat melakukan laporan ke Unit PPA Satreskrim Polres Magetan, Jumat (7/1/2022) (foto: Fatihah Ibnu Fiqri)

Magetan (beritajatim.com) – Dua anak dibawah umur asal Kecamatan Parang Magetan dianiaya oleh seorang pensiunan TNI bersama dengan segerombolan orang. Tak terima, orang tua korban memilih untuk melapor ke Polres Magetan.

Adalah Y orang tua korban yang melayangkan laporan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Magetan. Kedua putranya itu mengalamai kekerasan dan dipaksa untuk melakukan tindakan asusila.

Mulanya, Y mengatahui anaknya dianiaya oleh pelaku yang masih tetangga sendiri. Yakni F (14), anak kedua Y dipaksa untuk mengakui pencurian miras di warung milik pelaku. Sebelum dianiaya, F diminta untuk melayani pelaku yakni dengan dipaksa melakukan blow job atau oral seks. Bahkan diancam jika menolak melakukan.


Kemudian, F diminta untuk mengakui pencurian beberapa botol miras. Karena tak melakukan, F tetap menolak mengaku. Pelaku lantas menyudutkan rokok ke leher F. Kemudian, karena F tetap menolak mengakui pelaku meletakkan kaki kursi di punggung kaki F dan menaiki kursi tersebut. Tak puas dengan penyiksaan itu, F juga disetrum. Dia tetap dipaksa untuk mengakui pencurian yang tak dilakukannya di hadapan salah satu perangkat desa.

Bahkan, pelaku akhirnya menjemput G (16) , kakak F. G adalah mantan pegawai di toko miras milik pelaku. G juga dipaksa untuk mengakui tindakan pencurian yang juga tak dilakukannya. Berawal saat G masih berada di salah satu tempat bilyard dan dijemput pelaku. Pelaku menyebut kalau adik dan ayahnya sudah di tempat pelaku. Sampai di sana, G juga dianiaya dengan stun gun, disudut rokok, dan dipukuli di depan babinsa dan babhinkamtibmas.

“Awalnya anak saya diminta untuk datang ke tempat pelaku, kalau ditanya katanya harus jawab kalo ke sana mau disuruh ngutang duit. Tapi ternyata sampai sana malah disuruh mengaaku melakukan pencurian miras. Anak saya tidak tahu apa – apa. Dan dari situ pelaku mengadu domba tetangga saya. Anak saya disebut membawa-bawa nama anak-anak tetangga. Saya digeruduk orang banyak padahal anak saya tidak tahu apa-apa,” kata Y, Jumat (7/1/2022).

Karena mengalami penganiayaan G dan F akhirnya banyak bercerita pada sang ayah. Bahkan, dari kejadian itu G juga akhirnya menceritakan pengalaman buruknya saat masih menjadi karyawan di tempat pelaku. Dia mengalami tindakan kekerasan dan asusila selama tiga bulan bekerja.

Pelaku kerap memaksa G untuk melakukan oral seks. Kemudian diberi uang Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Jika menolak, korban diancam dibunuh. Bahkan, pernah ditodong senjata rakitan untuk berburu celeng. Mau tak mau korban tetap menurutnya. Pelaku bahkan sempat menjual G pada para waria sebagai pemuas nafsu. Hingga G disekap selama semalam suntuk di salah satu warung remang remang di Kecamatan Magetan.

Tak tahan diperlakukan buruk, G pun kabur dari tempat pelaku. Anak putus sekolah itu memilih untuk berdiam di rumah dan tak bekerja. Sementara F masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Namun, karena pelaku juga kenal dengan F, bocah itu tak luput dari sasaran tindakan kejinya. “Saya pun bercerita pada kerabat. Saya tidak terima anak saya diperlakukan demikian. Akhirnya saya putuskan pada polisi, dan ingin ada proses hukum pada pelaku,” kata Y.

Kuasa hukum korban Sumadi mengungkapkan kalau pihaknya sengaja langsung melapor ke Polres Magetan agar tak ada intervensi polsek setempat. Dia menduga, kalau ada oknum polsek Parang yang sengaja melindungi perbuatan buruk pelaku.

“Karena saat pemukulan terhadap korban kan melibatkan oknum perangkat desa dan TNI Polri. Sehingga, saya arahkan untuk melapor ke Polres. Kami harap Polres Magetan bisa mengusut tuntas. Jika tak segera bertindak cepat, maka kami akan melapor ke Polda Jatim,” katanya. (fiq/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar