Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

DPO Pembobol Kredit Bank Rp 52 Miliar Ditangkap Kejari Surabaya

I Gusti Bagus Surya Dharma, DPO perkara korupsi Bank Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – I Gusti Bagus Surya Dharma tak menyangka bahwa kedatangannya sebagai pengacara untuk mengambil berkas di Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya berujung dijebloskannya ke penjara.

Ternyata I Gusti Bagus Surya selama ini menjadi buron atau Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam perkara korupsi di Bank Jatim dengan nilai kerugian Rp 52 Miliar yang tejadi belasan tahun silam.

Kedatangan dia ke Kejari Surabaya hari ini bukanlah untuk menyerahkan diri karena status dia sebagai DPO, namun dia datang untuk keperluan kliennya yakni mengambil berkas dakwaan karena saat ini dia bekerja di sebuah kantor pengacara di Surabaya.

“Ditangkap saat datang ke kantor. Saat mengurus dokumen (perkara) lain. Karena ia juga berprofesi sebagai pengacara,” ujar Kepala Kejari Surabaya, Anton Deliano pada awak media di Ruang Media Center Kantor Kejari Surabaya, Selasa (24/8/2021).

I Gusti Bagus Surya bukan kali pertama datang ke kantor Kejari Surabaya, dia beberapa kali ke kantor yang ada di jalan Sukomanunggal ini. Namun petugas tak ada yang mengenali bahwa yang bersangkutan adalah seorang DPO. Kasus yang menjerat I Gusti Bagus Surya memang cukup lama yakni sekitar tahun 2005 silam, dia diadili bersama Yudi Setiawan selaku Direktur PT Cipta Inti Parmindo yang berhasil membobol Bank plat merah ini sebesar Rp 52 miliar.

Saat diamankan tim intelejen dan pidana khusus Kejari Surabaya, I Gusti Bagus Surya tak melakukan perlawanan namun dia menolak menandatangani berita acara eksekusi. Namun, hal itu tak menjadikan penghalang petugas untuk memasukkannya ke sel jeruji besi.

Usai menangkap I Gusti Bagus Surya, petugas kemudian menangkap lagi satu Terpidana yang masih satu rangkaian dengannya. Dia adalah Awang Dirgantara. Keduanya saat itu merupakan staf pemasaran di Bank Jatim, Cabang HR Muhammad, Surabaya.

Terpidana, Awang Dirgantara, diamankan petugas saat berada di kantor tempatnya bekerja di suatu lokasi di Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Anton menerangkan, kasus korupsi yang akhirnya melibatkan kedua orang terpidana itu, bermula adanya perkara dugaan korupsi 16 tahun, tepatnya pada Rabu (9/3/2005).

Kepala Kejari Surabaya, Anton Deliano pada awak media di Ruang Media Center Kantor Kejari Surabaya, Selasa (24/8/2021).

Kasus itu semula menyeret nama Yudi Setiawan selaku Direktur PT Cipta Inti Parmindo. Yudi mengajukan kredit ke Bank Jatim untuk modal pembiayaan 28 kredit, yang disalurkan menggunakan delapan perusahaan milik kelompok Yudi Setiawan, sendiri.

Selain Yudi Setiawan, dalam kasus tersebut, juga terdapat dua orang terpidana lain, diantaranya agus Prayoga dan Tomi.

Lantaran terbukti merugikan negara dengan nilai Rp 52.300.000.000. Anton mengungkapkan, ketiga terpidana itu telah divonis pada Bulan Agustus 2014, silam.

“Yudi Setiawan, Bagus Prayoga, dan Tomi. Semua sudah dieksekusi. Tapi 2 orang ini tadi dibebaskan oleh hakim, dan sekarang kami lakukan eksekusi,” katanya.

Setelah itu, muncul hasil putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) pada Rabu (9/5/20219), yang diterima pihak Kejari Surabaya pada Minggu (10/5/2020).

Putusan itu menyebut bahwa Hakim Agung menjatuhi dua terpidana bernama I Gusti dan Awang yang sebelumnya divonis bebas, pada Pengadilan Tingkat Pertama, dengan hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp 200 Juta.

“(Putusan Kasasi MA) 8 Mei 2019,¬†¬†diterima Kejaksaan 10 Mei 2020. (Menyurati terpidana) sudah,” jelasnya.

Anton menuturkan, keduanya akan dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) terdekat untuk dilakukan Tes Swab PCR.

Dan hasil swab PCR keduanya dinyatakan negatif sehingga langsung diantar ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Surabaya, Medaeng, Surabaya.

Eksekusi terhadap dua orang terpidana itu, bagi Anton, merupakan implementasi nyata komitmennya dalam menegakkan hukum.

Meskipun perkara hukum tersebut sudah bergulir sejak belasan tahun lalu dan tergolong perkara lama. Sudah menjadi tugasnya sebagai jaksa, untuk tetap menegakkan hukum sesuai amanat undang-undang (UU).

“Walaupun lari kemana, kami akan cari. Alhamdulillah sudah kami tangkap,” pungkas Anyon.

Sementara itu, terpidana Awang Dirgantara mengungkapkan, pihaknya akan melakukan Peninjauan Kembali (PK) dalam waktu dekat.

“Iya akan ada upaya. Melalui Peninjauan Kembali (PK),” ujar Awang pada awak media. [uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar