Hukum & Kriminal

Dosen Universitas Jember Dilaporkan Cabuli Keponakan Sendiri

foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Seorang oknum dosen Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dilaporkan ke polisi, dengan dugaan pencabulan keponakan sendiri. Polisi segera melaksanakan gelar perkara.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Jember Inspektur Satu Dyah Vitasari mengatakan, ada lima orang saksi yang sudah diperiksa. Salah satunya adalah oknum dosen terlapor.

“Pemeriksaan sejak pukul 10. Kami masih melakukan pendalaman dari hasil pemeriksaan. Visum obgin dan psikiatri sudah kami terima dari saksi ahli, dokter di RS dr. Soebandi,” kata Vitasari, Kamis (8/4/2021).

“Setelah ini kami akan melakukan gelar perkara. Dalam minggu ini kami akan segera laksanakan. Posisi korban saat ini didampingi teman-teman PPT (Pusat Pelayanan Terpadu),” kata Vitasari. Sejauh ini, ada kesesuaian antara keterangan pelapor dan terlapor.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, peristiwa pencabulan terjadi dua kali, yakni pada akhir Februari dan 26 Maret 2021. Keponakannya itu memang tinggal di rumah si oknum dosen. Saat itu, oknum dosen ini mengatakan bahwa korban terkena kanker payudara sembari memberikan jurnal dalam jaringan tentang kanker payudara.

Oknum dosen menawarkan terapi. Korban semula menolak. Namun oknum dosen mengikuti korban ke kamar dan memaksa sang keponakan membuka baju. Tanpa diketahui oknum dosen, korban merekam suara percakapan dalam kejadian tersebut. Setelah kejadian itu, si keponakan membuat status di Instagram Story yang belakangan diketahui si ibu dan berujung ke kepolisian.

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna mengatakan, pihaknya menunggu perkembangan penyelidikan dari kepolisian. “Kami juga sudah berkoordinasi membentuk tim investigasi terkait ini semua,” katanya. Unej akan proaktif bersamaan dengan penyidikan yang dilakukan polisi.

Investigasi dilakukan atasan langsung dengan bukti yang ada. “Azas praduga tak bersalah dulu. Kami kumpulkan dulu bukti-buktinya. Mekanisme itu sudah ada dan sudah pernah dilakukan di Unej,” kata Iwan. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar