Hukum & Kriminal

Dosen UINSA Dilaporkan Aniaya Sesama Dosen, Rektor Sarankan Penyelesaian Kekeluargaan

Surabaya (beritajatim.com) – Diberitakan bahwa terdapat perseteruan antara dua dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang melibatkan Wakil Direktur (Wadir) Pascasarjana, Dr Ahmad Nur Fuad, MA dan Kepala Program Studi (Kaprodi) Dirosah Islamiyah S2 UINSA berinisial SU.

Perseteruan yang terjadi pada Senin (10/8) itu mengakibatkan kontak fisik yang berujung pada pelaporan ke kepolisian. Menanggapi hal itu, Rektor Prof. H. Masdar Hilmy, mengatakan bahwa kejadian itu benar adanya.

Rektor pun mengatakan bahwa kemarin Selasa (11/8/2020) ia telah memanggil kedua pihak untuk dimintai kejelasan terkait duduk perkara. Selaku pimpinan, Rektor menyayangkan tindak kekerasan fisik yang dilakukan. Rektor juga berharap bahwa hal semacam itu (kekerasan, red) tidak dilakukan dalam upaya penyelesaian masalah.

“Apapun bisa dibicarakan. Jangan sampai ada kekerasan fisik. Saya sudah sampaikan itu. Tapi memang yang bersangkutan mengaku khilaf karena sedang marah,” ujar Prof. Masdar menjelaskan hasil pertemuan, Rabu (12/8/2020).

Kaitannya dengan korban, Rektor juga telah memberikan masukan untuk sedapat mungkin mengupayakan penyelesaian lewat jalur kekeluargaan. Sembari berupaya mencari cara menghentikan tindak tanduk kekerasan yang dilakukan.

“Tapi kalau Pak Wadir mau melakukan visum, disilahkan. Asalkan cara-cara yang ditempuh adalah legal dan tidak bertentangan dengan ketentuan Perundang-undangan,” imbuh Prof. Masdar.

Kendati sempat tidak menduga kejadian tersebut akan dibawa ke ranah hukum, Rektor memaklumi hak konstitusional Wadir sebagai warga negera yang memiliki kebebasan. “Bahwa yang bersangkutan dalam hal ini korban memilih jalur hukum, itu sudah diluar kewenangan Rektor untuk mencegah,” tegas Prof. Masdar.

Namun, secara kelembagaan Rektor juga menegaskan bahwa hal tersebut telah diupayakan untuk diselesaikan melalui Komite Etik Senat Universitas. Tentunya dengan tetap mengutamakan upaya-upaya rekonsiliasi dan mediasi bagi kedua belah pihak. “Kita berupaya untuk menempuh cara-cara yang elegan dan bermartabat untuk menyelesaikan hal ini agar tidak merugikan kedua-duanya,” tukas Prof. Masdar. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar