Hukum & Kriminal

Dokter Dilaporkan Bertindak Cabul, IDI Cabang Mojokerto Belum Tentukan Sikap

Mojokerto (beritajatim.com) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Mojokerto belum tentukan sikap terkait kasus persetubuhan dan pencabulan yang dialami oknum dokter yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemkab Mojokerto tersebut. Menyusul IDI belum melakukan klarifikasi terkait hal tersebut.

Ditemui usai Musyawarah Cabang IDI Mojokerto dan Seminar Diabetes Updates di salah satu hotel di Kota Mojokerto, Ketua IDI Cabang Mojokerto, Dr Rasyid Salim SpKJ mengatakan, jika pihaknya menunggu klarifikasi ke yang bersangkutan terkait dugaan kasus yang dilaporkan korban, PL (15) terhadap yang bersangkutan.

“Kurang klarifikasi dulu, klarifikasi itu bagaimana dulu. Apakah dia melanggar etik dan profesi atau tidak? Seandainya ini personality tidak melanggar etik dan profesi kedokteran, ya udah IDI tidak ikut-ikut. Tapi kalau masih rana profesi dan etik kedokteran, IDI akan bertindak,” ungkapnya, Sabtu (23/11/2019).

Masih kata Dr Rasyid, klarifikasi untuk mengetahui secara jelas terkait kasus yang saat ini ditanggapi Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto tersebut. Baik dari oknum dokter, korban maupun saksi sehingga nantinya IDI Cabang Mojokerto bisa bertindak.

“Klarifikasinya bagaimana dulu, dari polisi bagaimana? Dari keterangan saksi bagaimana? Kalau mencakup rana etik dan profesi, IDI akan bertindak. Muscab IDI cabang dan wilayah akan memutuskan bagaimana, ada di kode etik. Tapi kita akan klarifikasi lebih dulu, betul tidak?,” katanya.

Menurutnya, pihaknya belum mendapatkan klarifikasi dari sisi manapun terkait dugaan kasus persetubuhan dan pencabulan yang dilaporkan korban PL (15). Pihaknya akan memanggil yang bersangkutan, tegas Dr Rasyid, juga belum bisa dilakukan karena belum mendapatkan klarifikasi dari pihak kepolisian.

“Kita belum dapat klarifikasi apapun. Dari kepolisian belum. Belum dapat keterangan dari mana-mana. Anggota belum laporan. Kita tidak tahu, kita mau manggil, iya kalau benar. Kalau tidak benar bagaimana? Akan kita lihat dulu. Kalau iya, ada keputusan lalu kita panggil. Kita punya sidang khusus di komisi, Komisi Etik Kedokteran Cabang dan Wilayah. Kalau sudah, kita akan tentukan,” tegasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar