Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dituntut 9 Tahun, Pengacara Klaim Hanya Pukuli Korban Pakai Sandal Jepit

Surabaya (beritajatim.com) – Kuasa hukum Akbar Wahyu Saputra (18) dan M. Arif Hidayatullah (17) yakni Soetomo SH MH sangat keberatan dengan tuntutan sembilan tahun yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sulfikar.

Soetomo menyatakan, dalam fakta persidangan terungkap jika kedua kliennya hanya melakukan pemukulan di punggung dengan menggunakan sandal jepit. “Masa hanya dengan melakukan pemukulan di punggung dengan menggunakan sandal jepit bisa mematikan seseorang kalau tidak ada orang lain yang melakukan pemukulan dengan benda tumpul atau benda keras,” ujar Soetomo, Selasa (7/12/2021).

Lebih lanjut Soetomo menyatakan, pihaknya sangat keberatan dengan tuntutan Jaksa lantaran dalam perkara yang dilakukan penuntutan terpisah tapi Terdakwa Mukhamad Zufar Waliuddin Rafif dituntut satu tahun enam bulan. “Karena Jaksa memasukkan undang-undang perlindungan anak, itupun keliru pasalnya,” ujar Soetomo.

Lebih lanjut Soetomo menyatakan, harusnya kalau dimasukkan undang-undang perlindungan anak maka dijerarkan pasal 82 minimal lima tahun tapi ini dimasukkan pasal 80 tapi dijunktokan pasal 76 F. “Harapan saya, majelis hakim memberikan putusan yang seadil-adilnya dan memutus berdasarkan kebenaran matreiil yang seperti kita harapkan,” ujarnya.

Terpisah, JPU Sulfikar menyatakan dalam perkara ini pelaku pemukulan terhadap korban Mochamad Fito Zakariyah ada sekitar 20 orang, dua diantaranya adalah Akbar Wahyu Saputra (18) dan M. Arif Hidayatullah (17). Dan yang lainnya masih belum tertangkap dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Dari fakta persidangan memang kedua Terdakwa ini ikut memukul empat kali, dua kali pakai sandal dan dua kali pakai tangan dan pemukulan dilakukan saat korban sudah dalam keadaan lemas,” ujar Sulfikar.

Sulfikar menambahkan, memang pelaku pemukulan dalam kasus ini adalah banyak dan sebagian besar sudah melarikan diri. Namun, dari fakta persidangan tidak dapat dipungkiri bahwa memang kedua Terdakwa ikut melakukan pemukulan terhadap korban saat korban sudah dalam keadaan lemas. “Dan dari fakta persidangan juga terungkap kalau Zufar dan Rafif ini tidak ikut melakukan pemukulan terhadap Mochammad, Zufar dan Rafif hanya melakukan pemukulan terhadap Alfin yang usianya masih anak-anak,” ungkapnya.

Terkait jeratan pasal perlindungan anak, Sulfikar menegaskan bahwa karena korban yakni Alfin adalah masih anak-anak maka dijeratkanlah pada Terdakwa yang memukuli ini dengan pasal perlindungan anak. “ Tapi sistem persidangannya tetap peradilan umum,” ujarnya.

Perlu diketahui, perkasa ini terjadi pada Jumat, 21 Mei 2021, sekira pukul 01.30, kedua terdakwa dan Mukhamad Zufar Waliuddin Rafif (dalam penuntutan terpisah) serta bersama dengan teman-temannya, membawa Moch. Alvin Alfadhini Khumaidi ke samping Perumahan RSI Jemursari Surabaya. Saksi Mukhamad Zufar Waliuddin Rafif melakukan pemukulan terhadap Alvin sambil ditanyai siapa yang melakukan pemukulan terhadap Bayu. Diakui oleh Alvin bahwa dirinya yang memukuli bersama korban Mochamad Fito Zakariyah.

Setelah pengakuan tersebut, sambung JPU, terdakwa lalu membawa Alvin untuk mencari keberadaan korban Mochamad di kosnya yang beralamat di Jl. Siwalan Kerto Timur/238. Setelah menemukan korban, lalu dibawa ke depan Starbuck Jl. Siwalan Kerto.

Tak puas melakukan pengeroyokan, korban Alvin dan Mochamad dibawa ke samping Perumahan RSI Jemursari. Pengeroyokan dilakukan kembali oleh terdakwa bersama dengan teman-temannya kepada para korban. Sekira pukul 02.30, para terdakwa melakukan kembali pemukulan di Pos RT Siwalan Kerto Surabaya meskipun korban Mochamad dalam kondisi lemas.

Setelah para terdakwa puas memukuli, korban Mochamad lalu ditinggalkan di Pos RT Siwalan Kerto. Korban kemudian dibawa oleh Alvin dan saksi Garia Nabil Lathif ke kosnya. Tak lama kemudian, korban ditemukan meninggal dunia di dalam kamar kosnya dalam posisi tengkurap dengan luka memar di bagian kepala dan punggung. [uci/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar