Hukum & Kriminal

Kasus Dugaan Beras Oplosan, Kuasa Hukum: Itu Tuduhan Menyesatkan

Sumenep (beritajatim.com) – Pemilik UD Yudatama ART yang dituduh mengoplos beras di luar SOP untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), akhirnya angkat bicara.

Pemilik UD Yudatama ART, Latifah mengaku ingin meluruskan informasi yang selama ini santer beredar. Menurutnya, pihaknya bukan mengoplos beras untuk mengelabui konsumen, namun justru untuk meningkatkan kualitas.

“Memang kami membeli beras Bulog dan beras petani. Tetapi kami membeli dengan resmi, dan yang kami beli itu beras premium. Kami mencampur dua jenis beras itu untuk menghasilkan kualitas yang baik dan sama rupa,” paparnya, Rabu (12/3/2020).

Ia menjelaskan, pengemasan ulang yang dilakukannya karena menyesuaikan dengan permintaan pasar. Selama ini, konsumen lebih banyak membutuhkan kemasan 5 kg. Sementara pihaknya membeli beras dalam kemasan 50 kg.

“Mangkanya beras kemasan 50 kg itu kemudian dibuka dan dikemas ulang dengan kemasan 5 kg. Kemasan 5 kg kami itu diberi merk yang bukan dalam hak paten orang lain. Jadi tidak ada yang dirugikan,” paparnya.

Sedangkan cairan pandan yang disemprotkan itu merupakan penambah aroma untuk meningkatkan kualitas dan memenuhi selera konsumen. “Air pandan itu untuk memberi aroma wangi pandan pada beras. Dan itu bukan bahan kimia yang berbahaya bagi konsumen. Kami juga sudah mengukur kadar airnya, sehingga tidak merusak kualitas beras,” ucapnya.

Sebelummya, pada Kamis (26/2/2020), Polres Sumenep menggerebek sebuah gudang beras di Jalan Merpati, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. Di gudang beras dengan nama UD Yudatama ART itu diduga terjadi pengoplosan beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Saat digerebek, polisi menemukan ada 10 ton beras yang sudah dioplos dan rencananya akan didistribusikan ke agen di wilayah Pulau/Kecamatan Giligenting. Beras tersebut masing-masing dibungkus dengan kemasan 5 kg sebanyak 2 ribu karung. Beras itu sudah dinaikkan di atas truk bernomor polisi M 8267 UV.

Modus pengoplosan di gudang itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merek (beras dari petani). Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituangkan di lantai dan dicampur. Setelah itu beras disemprot dengan cairan pandan.

Beras kemudian diangin-anginkan beberapa menit. Setelah kering, beras yang sudah dioplos dan disemprot itu dikemas kembali dalam karung 5 kg, diberi merk Ikan Lele Super. Menanggapi hal itu, Kuasa Hukum Latifah, Kamarullah mengatakan, informasi yang selama ini beredar menggiring pada opini yang merugikan kliennya.

“Informasi itu mengandung fitnah dan menyesatkan, tanpa melihat kejadian sebenarnya. Akibat informasi yang tidak benar itu, banyak pihak yang menganggap klien kami telah melakukan pelanggaran, tanpa pertimbangan azas praduga tak bersalah,” paparnya.

Ia mengungkapkan, kliennya memiliki izin usaha legal dan telah lolos verifikasi faktual oleh tikor sebagai perusahaan penyedia bahan pangan program BPNT sejak 2019. Ada SOP yang ketat untuk itu.

Karena saat ini merupakan pasar bebas, maka siapapun berhak menawarkan berasnya ke e-warung sesuai kualitas yang telah ditentukan. Tikor kecamatan harus melakukan pengawasan, apakah beras yang masuk ke e warung sesuai dengan standar yang disyaratkan atau tidak. Standar tersebut diantaranya, derajat susutnya 95 persen, kadar air 14 persen, dan broken 15 persen.

“Nah, tikor itu nanti yang menentukan, beras yang ditawarkan ini memenuhi kriteria atau tidak. E warung juga boleh menolak beras yang ditawarkan suplier. Ini pasar bebas. Beras yang ditawarkan itu kalau cocok silahkan dibeli, kalau tidak ya tidak apa-apa,” paparnya. [tem/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar