Hukum & Kriminal

Dituding Gelapkan Emas, Terdakwa Eksi Menggugat

Surabaya (beritajatim.com) Eksi Anggraeni yang menjadi terdakwa kasus penggelapan dan penipuan dalam jual beli emas antara PT A dengan Budi Said melakukan perlawananan, dia menggugat perbuatan melawan hukum (PMH) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (22/10/2019).

Gugatan dengan nomer 1043/Pdt G/2019 ini menyebut bahwa PT A selaku tergugat dan Budi Said turut tergugat.

Kuasa hukum penggugat DR C Maya Indah S SH MHu menyatakan, pihaknya mengajukan gugatan ini karena merasa telah menjadi korban ketidakadilan atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukan oleh penggugat.

Maya menyebut, penggugat yang notabene adalah seorang wiraswasta yang bergerak di bidang jual beli emas namun dalam kaitannya dengan perkara ini, penggugat adalah perantara jual beli emas batangan antara tergugat sebagai penjual dengan turut tergugat.

Maya menceritakan awal mula kasus ini penggugat kepada turut Tergugat untuk membeli emas batangan kepada Tergugat, atas penawaran tersebut turut tergugat menyetujui.

Kemudian pada Maret 2018 antara Penggugat, Tergugat yang diwakili oleh Pimpinan Tergugat cabang Surabaya EK dan stafnya Ms melakukan pertemuan di butik PT A Cabang Surabaya.

” Setelah itu, pada Maret 2018 sampai dengan November 2018 ternyata telah terjadi transaksi jual beli emas batangan antara Tergugat dengan Turut Tergugat secara bertahap. Transaksi dilaksanakan sendiri oleh Tergugat dengan Turut Tergugat dengan sepengetahuan Penggugat. Bahwa pada semua pembelian emas batangan yang Turut Tergugat beli pembayarannya ke Rekening PT A. Pada setiap transaksi Penggugat yang disuruh menandatangani fakturnya oleh Tergugat sedangkan yang menerima emas kadang karyawan Turut Tergugat tetapi kadang juga Turut Tergugat sendiri, sedangkan Penggugat hanya menyaksikan saja. Perlu disampaikan bahwa penandatangan faktur bukan berarti penandatangan tanda terima barang,” bebernya.

Bahwa tiba-tiba Turut Tergugat melaporkan Penggugat kepada Kepolisian Daerah Jawa Timur dengan tuduhan tuduhan penipuan dan atau penggelapan dan atau penggelapan dalam jabatan sebagaiman diatur dalam pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dan atau 374 KUHP atas dasar pernyataan yang dibuat oleh Tergugat tanggal 16 Nopember 2018 yang pada pokoknya Tergugat menerangkan atas pembayaran dari Turut Tergugat kepada Tergugat sebesar Rp 573.680.000.000.

” Padahal Tergugat telah menyerahkan emas batangan seluruhnya seberat 1.136 kg, dengan rician kami sertakan dalam gugatan ini,” ujar Maya.

Maya melanjutkan, bahwa surat yang dibuat oleh Tergugat pada tanggal 16 November 2018, menerangkan bahwa penyerahan dilakukan tanggal setelah 16 November 2018. Hal mana berarti bahwa surat keterangan tersebut hanyalah berbicara tentang janji penyerahan atau jadwal penyerahan. Sama sekali tidak bisa dikatakan bahwa Tergugat telah menyerahkan sejumlah emas seberat 1136 kg.

Bahwa sesuai dengan standart Operating Procedur yang ada  di PT A, bahwa pembelian yang diikuti dengan penyerahan barang dari butik kepada konsumen dilakukan paling lambat 10 sampai 12 hari kerja setelah konsumen melakukan pembayaran. Ini artinya bahwa apabila diruntut sesuai dengan waktu dalam tanggal yang tertera dalam Surat Keterangan, maka bisa diruntut pembayaran ditarik 10-12 hari kebelakang mengacu pada bukti transfer dan faktur yang ada.

” Bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaaan saksi sebagaimana Perkara Nomor 2576 / Pid.B/2019/ PN.SBY, laporan pidana ada dugaan pembuatan faktur ganda oleh Oknum  PT A Surabaya. Bahwa harga yang tertera dalam Surat Keterangan tanggal 16 November 2018 adalah tuntutan harga yang diinginkan oleh Turut Tergugat sebagai harga discount atau potongan harga. Hal mana menjadi janggal mengingat PT A sebenarnya memiliki harga tersendiri. Demikianlah atas seluruh isi surat keterangan yang dibuat oleh Tergugat tersebut maka Penggugat merasa sangat  dikorbankan, karena seakan-akan Penggugat menjadi pihak yang bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Penggugat,” tutupnya.

PT A  saat dikonfirmasi terkait kasus ini menyarankan agar menghubungi langsung kantor pusat. Sementara PT A pusat saat dihubungi melalui nomer 02129980900 tidak ada yang merespon.

Terpisah, Budi Said saat dikonfirmasi menyatakan jika dirinya tidak mengetahui kalau digugat oleh Eksi. Namun, dia mengaku menyerahkan kasus ini ke proses hukum.

” Kalau memang benar ada gugatan ya, itu hak dia. Yang jelas kita ikuti proses hukumnya saja,” ujarnya. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar