Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dituding Cemarkan Nama Baik, Terdakwa Anwari Bantah Dakwaan Jaksa

Surabaya (beritajatim.com) – Terdakwa Anwari selaku Direktur Utama PT. Artorius Telemetri Sentosa (Turbo Net) membantah dakwaa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania bahwa Terdakwa telah melakukan pencemaran nama baik pada Nada Putri Parasti sebagai City Manager Citraland Surabaya.

Didalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania dari Kejati Jatim mendakwa terdakwa dengan pasal 45 ayat (3) Jo. Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi.

“Bahwa terdakwa selaku Direktur Utama PT. Artorius Telemetri Sentosa (Turbo Net) yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan jasa akses internet yang melakukan pemasangan jaringan di area Perumahan Citraland Surabaya pernah mendapat teguran dari pihak Manajemen Citraland Surabaya dalam mengirimkan pesan melalui akun whatsapp kepada (masing-masing) 32 orang dilakukan oleh terdakwa dengan cara terdakwa menuliskan sendiri dan dalam keadaan sadar,” ujarnya, dipersidangan ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (12/5/2022).

Menanggapi isi berkas dakwaan JPU, Dio Akbar Rachmadan Purba SH selaku kuasa hukum terdakwa Anwari mengaku keberatan, dengan pasal yang didakwakan oleh JPU.

Dio sapaan akrabnya menjelaskan, apa yang dilakukan Terdakwa bukanlah bagian dari mendistribusikan dan mentransmisikan membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan dokumen elektronik sebagaimana tertuang dalam 27 ayat 3 tentang penghinaan atau pencemaran nama baik. “ Klien kami sifatnya bertanya pada 32 saksi, dan itupun dilakukan lewat pesan pribadi bukan melalui group,” ujarnya.

Selain keberatan hal itu, Dio juga keberatan beberapa saksi yang dicantumkan didalam berkas dakwaan. “Ini yang disebutkan hanya beberapa saksi, didalam berkas JPU kan ada 32 orang. Kenapa gak disebutkan semuanya,” ungkapnya.

Dio juga meminta supaya Jaksa bisa menghadirkan 32 orang sebagai saksi dipersidangan. Sesuai apa yang dituliskan didakwannya. “Tidak mungkinlah Bu Nada sampai tau jumlah 32 orang, apa lagi hanya ditunjukkan langsung. Saya menduga dia tau berdasarkan screenshot yang disebarkan. Terdakwa pun melakukan hal itu hanya bertanya melalui japri, sedangkan waktu itu terdakwa bertanya di pihak kepolisian juga benar adanya kasus yang dialami oleh mantan suami Bu Nada. Artinya kan tidak mengada-ada,” terangnya.

“Kecuali pak Anwari itu menyebarkan di media sosial (medsos) atau group WhatsApp yang diketahui semua orang. Artinya medsos umum. Baru masuk unsur pasalnya. Kita lihat eksepsi sidang Minggu depan ya,” pungkas Dio.

Dijelaskan dalam dakwaan JPU, bahwa Terdakwa Anwari, pada hari Minggu tanggal 11 April 2021 sekitar pukul 22.00 Wib di Jalan Simo Magersari No. 56 Rt. 001 Rw. 006 Sukomanunggal Surabaya, melalui akun whatsapp mengirim pesan kepada saksi Asep Fransetia dari pesan/berita tersebut, menanyakan soal mantan suami Nada Putri (city manager citraland Surabaya) yang saat ini ditahan di Lapas Situbondo.

Saat itu mantan suaminya ditetapkan sebagai tersangka penggelapan dalam jabatan oleh penyidik Polsek Sukomanunggal Surabaya. Dan dikenakan Pasal 374 KUHP tentang penggelapan uang dalam jabatan. Lantaran menggelapkan uang perusahaan Rp322 juta, sesuai keterangannya uang itu dibuat untuk kebutuhan keluarga.

Dalam perkara ini, dia masih sebagai status saksi, selesai gelar perkara akan ditingkatkan menjadi Tersangka
melanggar Pasal 374 KUHP tentang penggelapan uang dalam jabatan oleh penyidik Sukomanunggal, Korban PT. ADP Dengan modus : “Uang perusahaan tidak disetorkan, Berita itu beneran ya?”

Selanjutnya dijawab oleh saksi Asep Fransetiadi keesokan harinya yaitu hari Senin tanggal 12 April 2021. “Waduh ndak tahu Pak”. Terdakwa kemudian menuliskan lagi, “Apa mungkin uang Rp 322 juta itu dipakai bu Nada untuk beli jabatan di Citraland?” Saksi ASEP FRANSETIADI menjawab chat “Maksudnya gimana”.

Chat tersebut juga dikirim ke 32 orang. Atas perbuatan terdakwa tersebut mengakibatkan Nanda Putri Parastati mengalami rasa malu dan melaporkan kasus ini ke polisi. [uci/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar