Hukum & Kriminal

Ditahan, PNS Dinas ESDM Pemprov Jatim Ajukan Penangguhan Penahanan

Surabaya (beritajatim.com) – Hadi Apri Handoko selaku Kuasa hukum tersangka Ali Hendro Santoso, PNS di Dinas ESDM Pemprov Jatim mengajukan penangguhan penahanan ke penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya atas penahanan yang dijalani kliennya.

Hadi mengaku menghormati keputusan penahanan klienya, karena memang kewenangan dan dalam sidang nanti dan pihaknya siap menangkis tudingan yang disangkakan ke kliennya.

“Kita ajukan penangguhan penahanan dan memang sampai sekarang belum ada jawaban, dikabulkan atau tidak,” ujarnya.

Perlu diketahui, Ali Hendro langsung ditahan Kejari Surabaya usai menjalani pelimpahan tahap dua dari penyidik Polda Jatim. Ia ditahan dalam kasus pungli pengurusan ijin usaha pertambangan (IUP).

“Tersangka AHS kami tahan selama 20 hari kedepan di Cabang Rutan Kelas I Surabaya di Kejati Jatim,”terang Kasi Intelijen Surabaya, Fathur, Kamis (1/8/2019).

Penahanan tersebut, masih kata Fathur dilakukan Jaksa Penuntut umum (JPU) atas beberapa pertimbangan. Diantaranya untuk mempermudah persidangan dan tidak mempengaruhi saksi dalam perkara ini.

“Intinya pasal yang dijeratkan pada tersangka AHS bisa ditahan,”jelas Fathur.

Saat ditanya apakah sebelumnya tersangka tidak ditahan oleh penyidik Polda Jatim, Kasi Intelijen ini membenarkannya.

“Saat penyidikan memang tidak ditahan,”tandasnya.

Untuk diketahui, tersangka Ali Hendro Santoso ditahan usai menjalani pemeriksaan tahap II sekitar 4 jam lamanya diruang Pidana Khusus (Pidsus), mulai pukul 11.05-hingga pukul 16.05.

Ali Hendro Santoso adalah tersangka jilid II kasus pungli perijinan di Dinas ESDM Pemprop Jatim yang diungkap Polda Jatim melalui operasi tangkap tangan.

Sebelumnya, kasus pungli ini juga menjerat Kasi Evaluasi dan Pelaporan Pertambangan di Dinas ESDM Pemprop Jatim, Cholik Wicaksono.

Kasus Cholik Wicaksono lebih dulu diproses. Ia telah divonis 1 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tipikor Surabaya, pada Jum’at (24/5) lalu.

Dalam kasus ini, Tersangka Ali Hendro Santoso berperan sebagai makelar. Ia menerima order pengurusan perijinan dari seorang pengusaha tambang asal Pasuruan bernama Nurul Andini.

Untuk memperlancar proses perijinannya, tersangka Ali Hendro Santoso meminta uang sebesar Rp 30 juta dan selanjutnya membawa Nurul Andini menghadap Cholik Wicaksono.

Pungli itu dengan maksud memperlancar proses IUP eksplorasi untuk komoditas pasir dan batu seluas 1,2 hektare yang berlokasi di Sungai Regoyo Desa Gondoruso, Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang. [uci/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar