Hukum & Kriminal

Disidang Perdana, Henry J Gunawan dan Istri Ajukan Penangguhan Penahanan

Surabaya (beritajatim.com) -Henry Jocosity Gunawan kembali kesandung perkara hukum, kali ini dia tidak sendiri diadili namun sang isteri Iuneke Anggraini juga turur menjadi terdakwa dalam kasus keterangan palsu pada ke akte otentik.

Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) ini disidang dengan majelis hakim Dwi Purwadi. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso dari Kejari Surabaya membacakan surat dakwaan untuk Henry (terdakwa I) dan Iuneke Anggraini (terdakwa II)

Dijelaskan Jaksa Ali, Perkara dimulai dari pembuatan 2 akte yakni  perjanjian pengakuan  hutang dan  personal guarantee antara PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry Jocosity Gunawan sebagai penerima hutang sebesar Rp 17.325.000.000 di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 juli 2010 dihadiri juga oleh Iuneke Anggraini.

Dalam kedua akte tersebut Henry Jocosity Gunawan menyatakan mendapat persetujuan dari istrinya yang bernama Iuneke Anggraini, keduanya sebagai suami istri menjamin akan membayar hutang tersebut, bahkan Iuneke pun ikut bertanda tangan di hadapan notaris saat itu.

Belakangan terungkap bahwa  perkawinan antara Henry Jocosity Gunawan dengan Iuneke Anggraeni baru menikah pada tanggal 8 November 2011 dan dilangsungkan di Vihara Buddhayana Surabaya dan dicatat di dispenduk capil pada 9 November 2011.

“Bahwa terdakwa I, Henry Jocosity Gunawan dan terdakwa II, Iuneke Anggraini pada tanggal 6 Juli 2010 bertempat di Kantor Notaris Atika Ashiblie, SH melakukan dan menyuruh melakukan dan turut serta melakukan, menyuruh memasukan keterangan palsu kedalam akta otentik mengenai suatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu
seolah olah keterangannya sesuai dengan kebenaran,” terang JPU Ali Prakoso saat membacakan surat dakwaannya diruang sidang Garuda 2, PN Surabaya, Kamis (3/10).

Berdasarkan peristiwa tersebut, Jaksa mendakwa Pasutri ini melanggar Pasal
Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Atas dakwaan tersebut, Henry dan Iuneke mengaku akan mengajukan ekspepsi.

“Saya serahkan ke penasehat hukum,”ucap Henry yang diamini kuasa hukumnya, Masbuhin.

Diakhir persidangan, Masbuhin meminta agar klienya dilepaskan dari tahanan Rutan Kelas I Surabaya (Rutan Medaeng).

“Ijin majelis, kami mengajukan permohonan peralihan status penahanan,”kata Masbuhin sambil menyerahkan permohonannya yang langsung disambut hakim dengan kata masih dipertimbangkan.(uci/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar