Hukum & Kriminal

Diringkus Polres Mojokerto, Empat Tersangka Racik Serbuk Jadi Petasan Siap Edar

Mojokerto (beritajatim.com) – Empat tersangka pembuatan bahan peledak dan pembuatan petasan meracik sendiri petasan dan akan diedarkan serta dijual ke masyarakat saat takbiran. Dari empat tersangka disita 69,5 kg bubuk peledak dan 2.237 petasan siap edar.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, empat tersangka tersebut yakni Mulyadi (46) warga Desa Baureno, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. “Tersangka Cak Mul (Mulyadi), orang yang bisa meracik bahan-bahan tersebut menjadi petasan skala besar. Tersangka akan menjual di malam takbiran,” ungkapnya, Senin (3/5/2021).

Barang bukti yang diamankan dari tersangka Mulyadi diantaranya, 6,5 kg serbuk petasan dibungkus plastik @0,5 kg, 5 kg serbuk petasan dibungkus plastik, 2 kg belerang, 4 kg potasium, 0,5 kg serbuk sendawa, 1,5 kg serbuk bron, 1/4 tepung kanji, 1/4 serbuk arang, 16 lembar kertas sumbu, satu buah panci dan satu batang bambu sebagai alat pengaduk.

“Tersangka menjual bubuk petasan tersebut ke masyarakat seharga Rp150 ribu per kg. Tersangka merupakan salah satu korban akibat mercon (petasan) juga. Pergelangan tangan kiri tersangka ini, cacat karena terkena ledakan petasan tahun 1997. Sejak saat itu dia beralih meracik bubuk petasan saja,” katanya.

Tersangka Mulyadi mengaku membeli bahan untuk membuat bubuk petasan dari M Suwono (51) warga Desa Balongmacekan, Kecamatan Tarik, Sidoarjo seharga Rp2,9 juta. Dari rumah tersangka diamankan 25 kg belerang, 25 kg potasium, 2 kg serbuk bronze, 100 lembar kertas sumbu, serta 1 kg bubuk sendawa.

“Di Kecamatan Tarik, Sidoarjo diamankan M Suwono memiliki bahan kemasan plastik 1 kg, total serbuk sebanyak 57 kg yang sudah disiapkan dan siap edar. Dari keterangan Mulyadi dan M Suwono, barang-barang tersebut dibeli dari Pasar Turi. Tersangka masuk dalam DPO,” jelasnya.

Selain meringkus Suwono, polisi juga menggeledah tempat tinggalnya. Petugas menyita 9 Kg bubuk petasan dengan kemasan 1 Kg, 37,5 Kg bubuk petasan kemasan 0,5 Kg, 21 petasan berdiameter 9 cm, 5 dus petasan berdiameter 2 cm, 32 lembar sumbu petasan, 91 selongsong petasan, 24 rol kertas, serta berbagai peralatan untuk membuat petasan.

“Suwono mengaku membeli bubuk petasan dari seorang pria berinisial PDK yang kini masih buron. Bahan peledak itu dia beli seharga Rp170 ribu per kg. Tersangka memanfaatkan momen menjelang lebaran untuk membuat petasan dalam jumlah besar untuk diedarkan ke masyarakat,” ujarnya.

Tersangka ketiga yakni Kaseran (71) warga Desa Kalimati, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo ini mengaku memasok bahan untuk membuat bubuk petasan ke Mulyadi melalui Suwono. Kaseran mengaku membeli bahan-bahan untuk membuat bubuk petasan di Pasar Turi, Surabaya melalui seseorang berinisial Pur, masih dalam pencarian.

“Industri rumahan petasan ketiga di Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Mojokerto digerebek tim Unit Reskrim Polsek Sooko meringkus Roib (46) warga Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Sejumlah barang bukti tersebut siap edar yang akan dijual di tengah masyarakat,” urainya.

Petugas juga menyita 11 kg bubuk mercon kemasan 2,5 kg, 1,5 kg bubuk petasan, 172 petasan berdiameter 9 cm, 195 petasan diameter 7 cm, 412 petasan diameter 4 cm, 7 rangkaian petasan masing-masing sepanjang 3 meter, 27 lembar sumbu petasan, serta berbagai peralatan untuk membuat mercon.

“Total yang kami sita 69,5 Kg bubuk petasan dan 2.237 petasan siap edar. Penggerebekan home industry petasan ini untuk mendukung Operasi Mesra (Mojokerto Sehat Tertib Ramadan). Mengantisipasi maraknya petasan yang mengganggu kenyamanan masyarakat selama ibadah Ramadan dan juga menjamin keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Keempat tersangka dijerat dengan pasal 1 ayat (1) UU Darurat nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman 20 tahun. Menurutnya, masyarakat Kabupaten Mojokerto sudah berani melaporkan kepada pihak kepolisian sehingga pihaknya bisa melakukan penindakan dalam rangka menciptakan keamanan dan ketertiban.

Tersangka, Mulyadi (46) mengaku, pergelangan tangan sebelah kiri putus lantaran saat membuat petasan meledak. “Saat saya masukan obeng terus meledak, tahun 1997. Baru kali ini, mulai lagi. Semua ini saya beli Rp2,9 juta, akan saya jual ke teman-teman. Tahu saya salah, melanggar hukum. Kapok saya,” pungkasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar