Hukum & Kriminal

Diperkosa Pria Beristri, Pelajar di Mojokerto Hamil 8 Bulan

Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Ade Warokka. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mojokerto menerima laporan kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Korban, LR (15), hamil delapan bulan, sedangkan pelakunya diduga pria beristri dengan tiga anak yang tak lain pacar korban.

Kasus pemerkosaan anak di bawah umur tersebut dilaporkan ayah pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto pada, Selasa (5/11/2019) pekan lalu. Saat ini, penyelidikan kasus tersebut baru pada tahap pemeriksaan saksi-saksi.

Kasat Reskrim Polresta Mojokerto AKP Ade Warokka membenarkan terkait laporan SP (48) tersebut. “Iya benar sudah ada laporan (kasus pemerkosaan anak dibawah umur, red). Saat ini kasus tersebut sedang kami tindak lanjuti,” ungkapnya, Selasa (19/11/2019).

Masih kata Kasat, dari penyelidikan petugas, dugaan pemerkosaan tersebut terjadi sekitar Maret 2019. Korban yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP di Kecamatan Jetis, diajak terduga pelaku ke salah satu hotel yang ada di Jalan By Pass Mojokerto.

Di kamar hotel tersebut, pelaku berinisial JP memerkosa korban. JP diketahui tinggal di Kecamatan Jetis, dan telah beristri, serta mempunyai tiga orang anak. Pelaku menjemput korban di jembatan Dusun Pencarikan, lalu mengajak korban ke hotel.

“Saat ini korban sedang hamil delapan bulan. Kami sudah memintai keterangan saksi sebanyak 3 orang, petugas akan kembali memeriksa 1 saksi lagi. Setelah kami dapatkan minimal dua alat bukti, perkara akan kami naikkan ke tahap penyidikan,” katanya.

Pada tahap penyidikan, lanjut kasat, pihaknya akan melengkapi alat bukti dengan tes DNA terhadap janin yang dikandung korban. DNA dari janin akan dicocokkan dengan terduga pelaku JP. Tes ini untuk memastikan korban hamil akibat diperkosa JP atau bukan.

“Visum tidak bisa karena korban sudah hamil tujuh bulan. Oleh sebab itu, langkah yang akan kami tempuh tes DNA. Orang tua korban melaporkan perkara itu setelah curiga perilaku dan gerak-gerik anaknya tersebut berbeda,” tegasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar