Hukum & Kriminal

Diperiksa 5 Jam, Biduan Cantik di Malang Tertipu Rp 100 Juta

Malang (beritajatim.com) – Kasus dugaan penipuan dengan korban sejumlah Biduan cantik asal Kabupaten Malang, mulai dilakukan penyidikan mendalam oleh Unit III Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Satreskrim Polres Malang.

Salah satu Biduan cantik yang menjadi korban penipuan yakni Yuniar Adilla, warga Kalipare, Kabupaten Malang. Yuniar diperiksa selama 5 jam. “5 jam lebih tadi. Mulai diperiksa sejak pukul 10.30 sampai pukul 15.00 wib. Ada banyak pertanyaan hari ini,” tegas Yuniar, Jumat (28/8/2020) sore usai keluar dari ruang pemeriksaan Tipidsus Satreskrim Polres Malang.

Kata Yuniar, hasil pemeriksaan sebagai pelapor, Polisi menanyakan secara rinci berapa jumlah kerugian yang ia alami. “Berapa kerugian saya, termasuk tadi dicocokkan lagi rekening koran. Termasuk melihat bukti percakapan Whattsapp dengan RM,” paparnya.

Yuniar melanjutkan, dirinya juga ditanya apakah selama ini sempat melihat langsung usaha dari RM selaku terlapor dalam kasus ini. “Saya jawab tidak tahu. Tapi saya sempat ditunjukkan RM pabrik kripik buah,” ujarnya.

Yuniar mengaku sejauh ini sudah berupaya mencari keberadaan RM, terlapor yang juga kawan seprofesi Yuniar untuk mengembalikan uangnya. “Dua kali saya cari RM. Yang pertama ketemu, tapi dia tidak bereaksi apapun. Lalu saya sanggong keduanya, tidak bertemu RM. Saya juga sudah layangkan surat somasi sebanyak dua kali tapi tidak ditanggapi,” bebernya.

Sementara itu, Didik Lestariyono selaku Kuasa Hukum Yuniar Adilla menambahkan, surat somasi pertama ditujukkan pada terlapor pada tanggal 5 Agustus 2020. “Somasi kedua kita layangkan tanggal 9 Agustus 2020 lalu,” tuturnya.

Didik menambahkan, pihaknya berterima pada jajaran Satreskrim Polres Malang yang sangat cepat dalam melakukan proses penyelidikan dan penyidikan dalam kasus ini.

“Polisi melakukan penyidijan sangat cepat, termasuk melakukan pemanggilan terlapor. Untuk agenda selanjutnya, yakni memanggil saksi dan terlapor. Kalau kerugian yang dialami klien kami secara materi dan non materi lebih dari Rp 100 juta. Modusnya ditawari investasi tembakau oleh terlapor,” pungkas Didik. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar