Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dilaporkan ke Polrestabes Surabaya Curi Surat Tanah, Dokter Gigi di Surabaya Beri Penjelasan

Dokter D dan kuasa hukumnya Teguh saat di wawancarai Beritajatim.com

Surabaya (beritajatim.com) – Polrestabes Surabaya telah menerima laporan atas dugaan pencurian surat tanah yang dilakukan oleh Dokter gigi di Surabaya berinisial D dengan nomor laporan LP-B/790/Vi/2022/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWATIMUR tanggal 26 Juni 2022.

Menanggapi laporan tersebut, Dokter D mengatakan jika surat tanah yang dilaporkan dicuri ternyata menjadi jaminan atas utang yang diajukan oleh Andri Wicaksono.

Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum dokter D, Teguh Suharto saat diwawancarai Beritajatim.com, Kamis (22/09/2022). Ia mengatakan jika, (alm) Andri mempunyai hutang uang sebesar Rp 300 juta untuk beli tanah di Lamongan untuk dibuat usaha. Andri lantas menjaminkan sertifikat dan BPKB motornya kepada dokter D.


“Jadi almarhum ini kan punya hutang ke klien saya untuk mencicil tanah di Lamongan, dan itu ada bukti tertulisnya Dengan perjanjian jika belum lunas hutangnya sertifikat dan BPKB motornya tidak diberikan,” ujar Teguh.

Ditanya terkait apakah dokter D mengambil sertifikat tanah dan BPKB di kos almarhum Andri, Teguh dengan tegas menyangkal jika kliennya datang ke kos Andri untuk mengambil barang-barang yang disebutkan dalam laporan kepolisian.

“Tidak, tidak pernah sama sekali klien saya mengambil dan mencurinya. Dokumen-Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah dan bangunan berukuran 220,5 m² di Desa Karanglangit, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan itu sengaja diserahkan almarhum Andri ke dokter D karena dijaminkan,” imbuh Teguh.

Teguh menambahkan jika kliennya sudah punya itikad baik untuk melupakan hutang dan menyerahkan surat tanah beserta BPKB kepada keluarga. Namun, keluarga Andri malah meminta permintaan yang tidak masuk akal kepada kliennya.

“Alasannya karena sudah habis banyak untuk pemakaman almarhum. Apalagi pihak keluarga sudah menuduh dan melaporkan ke polisi, ya klien kami akhirnya tidak jadi memberikan itu ke keluarganya,” tegas Teguh.

Sementara itu, Dokter D juga menceritakan semasa hidupnya almarhum, bahwa pihak keluarga almarhum sering meminta uang ke almarhum dengan segala alasan. Bahkan Arik Suryanto (pelapor) sering diberi pekerjaan oleh Dokter D.

“Adiknya ini sudah ikut saya 14 tahun, saya sudah mediasi baik-baik karena ini menyangkut orang yang sudah meninggal. Tapi keluarganya meminta lebih,” tegasnya.

Beritajatim lantas mengkonfirmasi Robiyan Arifin selaku kuasa hukum Arik yang melaporkan dokter D ke Polrestabes Surabaya. Ia membenarkan jika Arik dan dokter D telah menjalani mediasi yang difasilitasi penyidik Satreskrim Polrestabes Surabaya. Namun, dalam proses mediasi antara dokter D dan pelapor gagal.

“Iya kemarin tanggal 13 September di mediasi, cuman gagal. Terlapor tidak mau mengakui kesalahan dan yang kedua terlapor ini juga terlalu mengungkit hal lainnya, sehingga menyebabkan ketersinggungan,” ujar Robiyan.

Sementara Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana saat dikonfirmasi mengatakan jika saat ini polisi masih melakukan penyelidikan.

“Ditangani resmob, saya cek dulu perkembangannya. Terus kami dalami mas,” ujarnya. (ang/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar