Hukum & Kriminal

Dihukum 5 Bulan, ASN Pemkot Surabaya Langsung Bebas

Surabaya (beritajatim.com) – Vonis lima bulan yang dijatuhkan oleh Majelis hakim yang diketuai Yohannes Hehamony pada Syamsul Arifin, Rabu (30/1/2020) membuat Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya ini bisa menghirup udara bebas hari Kamis (30/1/2020) ini. Sebab, Terdakwa sudah menjalani masa hukuman pas dengan hukuman yang dijatuhkan hakim.

Kuasa hukum Terdakwa, yakni Hishom Prasetyo Akbar menyatakan terhadap putusan hakim pihaknya menghormati putusan tersebut. Namun pihaknya berkeyakinan bahwa Terdakwa tidak melakukan Rasisme.

“Dan yang perlu dijadikan catatan penting dalam putusan hakim yang menyebutkan bahwa apa yang diucapkan Terdakwa adalah murni ungkapan kekecewaan yang dirasakan kliennya, perihal penolakan pengibaran bendera merah putih di Asrama Kalasan dan terlebih lagi adanya dugaan pengrusakan bendera merah putih yang diduga dilakukan penghuni asrama,” ujar Hishom usai sidang, Kamis (30/1/2020).

Dia menambahkan, dalam putusan hakim juga disebutkan bahwa meskipun ada hal-hal yang berbau penolakan terhadap NKRI pada saat itu namun tapi kemudian tidak serta merta membenarkan apa yang dilakukan kliennya. “Seharusnya klien kami tidak terbukti,” ujarnya.

Perlu diketahui, hakim dalam putusannya menyatakab Terdakwa terbukti melakukan Rasisme saat kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Surabaya pada Jum’at (16/8/2019) lalu. “Perbuatan terdakwa terbukti melanggar dakwaan ke satu yakni pasal 16 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis,” kata hakim dalam putusannya.

Selain itu, hakim juga mempertimbangan hal yang meringankan dan yang memberatkan bagi diri terdakwa Syamsul Arifin.

Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa telah melukai masyarakat Papua khususnya mahasiswa yang berada di Asrama Mahasiswa di Jalan Kalasan Surabaya. Sedangkan sikap terdakwa yang berterus terang, mengakui perbuatannya dan menyesali perbuatannya menjadi alasan yang meringankan dalam tuntutan JPU. “Menjatuhkan pidana penjara selama lima bulan,” ujar hakim.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa yang sebelnya menuntut pidana penjara selama delapan bulan. Diketahui, Selain terdakwa Syamsul Arifin, Kasus ini juga menyeret dua terdakwa lainnya yakni Tri Susanti alias Mak Susi, mantan anggota ormas FKPPI dan Andria Ardiansyah, seorang youtuber asal Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, Mak Susi diduga menyebar berita bohong atau hoaks melalui sarana elektronik yakni WhatsApp terkait perusakan bendera merah putih di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya pada Jum’at (16/8/2019) lalu.

Sedangkan terdakwa Andria Ardiansyah diduga bersalah karena telah menggugah insiden Kerusuhan di akun YouTube tanpa melihat fakta yang sebenarnya. [uci/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar