Hukum & Kriminal

Diduga Tendang Kaki Ketua RT, Kepala Satpam Perumahan Mewah Diadili

Surabaya (beritajatim.com) – Christian Novianto seorang kepala satpam perumahan mewah Wisata Bukit Mas diadili lantaran melakukan penganiayan terhadap Oscarius Yudhi Ari Wijaya yang tak lain ketua RT WBM.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Maxi Singgarlaki ini mengagendakan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suparlan dari Kejaksaan Negeri Surabaya. Dua saksi tersebut yakni Imam Buchori dan Soni Wibisono keduanya merupakan teman profesi terdakwa.

Dalam keterangannya kedua saksi mengatakan bahwa mereka mengetahui adanya keributan antara terdakwa dengan Oscarius Yudhi Ari Wijaya (Korban).

“Ribut-ributnya saya lihat sekitar jam empat sore hari Sabtu. Tapi masalah penendangan saya tidak tahu,” kata kedua saksi yang terlihat kompak, di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (4/7/2019).

Di saat bersamaan, penasehat hukum terdakwa menunjukkan hasil rekam video saat terjadinya adu mulut terdakwa dengan korban. Namun video tersebut tidak menampilkan saat terdakwa menendang korban.

“Kalau lihat video seperti itu kenapa harus menjadi perkara,” kata hakim Maxi.

Namun pembuktian JPU Suparlan bukan dari video tersebut, melainkan dari hasil visum korban dari pemeriksaan Rumah Sakit Bhayangkara. Mendengar hal itu, hakim Maxi menyuruh jaksa menghadirkan saksi dari pihak dokter RS Bhayangkara.

“Silakan dokternya dipanggil disini,” kata hakim Maxi.

Dalam sidang sebelumnya, Oscarius Yudhi Ari Wijaya SH.MH, ketua RT Cluster Roma Perumahan Wisata Bukit Mas (WBM) memberikan keterangan sebagai korban.

Menurut korban peristiwa ini terjadi pada Sabtu tanggal 22 September 2018 sekira pukul 16.30 WIB di Pos Satpam Cluster Roma Perumahan Wisata Bukit Mas.

Waktu itu, korban mendatangi Pos Satpam setelah mendapat laporan dari salah satu warganya. Yang tidak diperbolehkan oleh securty perumahan memasukkan material bahan bangunan untuk memperbaiki rumahnya yang 5 tahun lebih mengalami kebocoran.

Korban menanyakan, atas perintah siapa bahan material tersebut tidak boleh masuk perumahan. Pihak security perumahan mengatakan tidak bisa masuk karena tidak ada surat ijin dari pihak pengembang. Selanjutnya korban bertanya lagi atas perintah siapa?

“Dijawab security atas perintah kepala security yang juga anggota TNI AL,” ujar korban menirukan perkataan security.

Setelah korban mendapatkan jawaban seperti itu, kemudian dia menghubungi anggota Pomal supaya datang. Saat anggota Pomal datang, tidak berapa lama kemudian terdakwa juga datang.

Kemudian korban mengatakan kepada terdakwa bahwa pihak pengembang belum bisa menarik retribusi lagi kepada warga karena persoalan restrubusi ini sedang diajukan gugatan perdata di PN Surabaya dan belum inkracht.

Selanjutnya terjadi perdebatan antara korban dengan terdakwa, tersulut emosi, terdakwa maju, lalu mendorong korban.

“Nah, pada saat dilerai, terdakwa menendang kaki kiri saya. Usai ditendang kaki saya merasa sakit dan memar,” terang korban.

Dalam dakwaan JPU disebutkan bahwa terdakwa Christian Novianto dianggap melakukan perbuatan sebagaimana tertuang dalam pasal 351 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan. [uci/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar