Hukum & Kriminal

Diduga Mendapat Pelecehan Seksual, Siswa Perlu Pendampingan Agar Tidak Trauma

Foto ilustrasi.

Surabaya (beritajatim.com) – Oknum kepala sekolah menengah kejuruan di Surabaya dilaporkan atas dugaan pelecehan kepada salah satu siswinya berinisial S (17). Kasus tersebut terungkap ketika orang tua korban mengetahui anaknya enggan pergi ke sekolah.

Menyikapi kasus ini, CEO U Save Children (USC) Lely Yuana menyatakan bahwa pelecehan seksual secara verbal maupun tindakan yang terjadi baik di lingkungan pendidikan maupun lingkungan kerja adalah bentuk watak superioritas pelaku yang harus diberantas.

“Ironis, di mana ruang tumbuh anak menuju remaja tidak memberi rasa aman. Ruang tumbuh anak jangan tebang rasa aman bagi mereka,” terang Lely di Surabaya, Jumat (5/3/2021).

Dia menambahkan, dugaan pelecehan seksual kepada korban harus mendapat penanganan serius. Karena korban telah menghadapi dua masalah berat dalam kondisi saat ini.

Belum lagi penerapan belajar dari rumah saat pandemi memberikan dua sisi kompleksitas. Yaitu justru makin membuat terpuruk atau malah mendukung upayanya menemukan rasa aman karena artinya minim kontak tatap muka dengan pelaku. Masalah itu bisa membuat korban harus beradaptasi dengan situasi merasa terisolir.

“Sehingga jangan sampai traumatis membuatnya merasa menghadapi dunia ini sendiri. Harus ada pendampingan psikologi. Pemerintah harus hadir dan memahami situasi ini tidak bisa dianggap remeh,” tandas jurnalis TIMES Indonesia ini.

Ia juga berharap ketegasan dalam upaya penyidikan kasus tersebut. Agar sanksi norma kesusilaan dan hukum tak sekedar efek jera bagi predator anak. Sedangkan bagi korban, ia meminta kepada semua pihak agar tidak menyudutkan korban.

“Jangan biarkan anak dan lingkungan menyalahkan dirinya, masyarakat harus bisa berada di posisi sebagai korban,” tuntasnya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk