Hukum & Kriminal

Dianggap Bagian Permainan, Korban Tak Sadar Jadi Korban Sodomi

Kapolres Mojokerto, AKBP Setyo Koes Heriyatno. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Para korban pelaku anak dalam kasus sodomi di Mojokerto tidak mengetahui jika apa yang dilakukan pelaku tersebut merupakan perbuatan cabul. Ini lantaran para korban menganggap apa yang dilakukan pelaku adalah bagian dari permainan.

Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno mengatakan, pihaknya telah menetapkan A (12) sebagai pelaku anak dalam kasus tersebut setelah ditemukan dua korban yang juga dibawah umur. “Ada dua korban, satu usia 6 tahun dan satu lagi 9 tahun,” ungkapnya, Rabu (6/11/2019).

Masih kata Kapolres, yang cukup memprihatinkan dalam kasus tersebut karena korban tidak merasa keberatan. Ini lantaran antara pelaku anak dan korban saling mengenal. Mereka merupakan teman main yang juga bertetangga. Korban juga tidak tahu perbuatan tersebut menyimpang.

“Para korban ini tidak tahu jika perbuatan yang dilakukan pelaku anak tersebut menyimpang apa tidak. Karena itu dianggap sebagai bagian dari permainan. Tidak ada bujuk rayu karena korban menganggap ini permainan dan memang dilakukan di sawah dan kebun,” katanya.

Kapolres menambahkan, ada dua lokasi yang digunakan pelaku anak untuk melakukan tindak asusila terhadap korbannya. Yakni di sawah dan kebun. Kejadian tersebut dilakukan saat pelaku dan korban sedang bermain sehingga korban tidak tahu bahwa apa yang dilakukan pelaku anak menyimpang.

“Berapa kali pelaku anak melakukan sodomi terhadap para korbannya? Masih kita gali karena korban terlalu kecil, yang jelas ada luka di organ intim korban. Kita juga masih melakukan penyidikan terkait apakah masih ada korban lain yakni dengan meminta keterangan dari teman-teman bermain pelaku anak tersebut,” jelasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar