Hukum & Kriminal

Demi Judi Online, Karyawati Cantik Gelapkan Uang Nasabah Rp 2,1 Miliar

Mojokerto (beritajatim.com) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto merealese tindak pidana perbankan dengan terdakwa Vionita Rizki Yuhandari (25). Customer Service (CS) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Pungging ini menggelapkan uang sejumlah nasabah sebesar Rp2.062.266.000 untuk judi online.

Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono mengatakan, warga Dusun Krajan, Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek tersebut memanfaatkan jabatannya sebagai CS di BRI Unit Pungging. “Terdakwa diangkat sebagai CS di BRI Unit Pungging sejak 27 Februari 2018,” ungkapnya, Kamis (8/8/2019).

Kasus tersebut dilakukan penelitian oleh tim Jaksa Penelitian Kejari Kabupaten Mojokerto setelah pelimpahan berkas dan barang bukti dari Penyidik Polres Mojokerto. Terdakwa disangkakan dengan Pasal 49 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 16 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Pasal 374 KUHP jo 64 KUHP.

“Berdasarkan penelitian oleh Jaksa Penelitian, terdakwa melakukan perbuatan secara berulang dan berlanjut. Yakni mulai bulan Februari sampai dengan Agustus 2018, kerugian BRI sebesar hampir Rp2,1 milyar. Apa ada keterlibatan pihak lain? Kita akan lihat saat penuntutan di PN,” katanya.

Masih kata Rudy, melihat dari proses tersangka mengeluarkan uang nasabah tanpa seizin pemilik rekening tidak mungkin sendiri. Menurutnya, otoritas terdakwa terbatas karena dari transaksi yang dilakukan tersangka adalah transaksi yang nilainya bukan kewenangan tersangka.

“Tapi kewenangan atasan tersangka. Saya sudah peintahkan JPU untuk mengali hal-hal tersebut, apakah peran dari pihak lain, apakah peran teller atau Ka Unit Pungging. Jika ada dan terlihat, saya minta agar JPU untuk meminta majelis hakim. Ketika ada fakta di persidangan menetapkan sebagai turut serta,” tuturnya.

Rudy menambahkan, kewenangan nilai transaksi antara teller dan Kepala Unit berbeda sehingga saat sudah melewati kewenangan maka akan minta otorisasi atau persetujuan atasannya. Pasalnya, nilai transaksi berbeda. Ada sampai Rp500 juta yang bukan kewenangan CS.

“Tidak menutup kemungkinan nilai transfer sebesar Rp500 juta tersebut Kepala Unit minta persetujuan atasannya lagi. Jadi otoritasnya terbatas,” tegasnya.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Mojokerto, Arie Satria menambahkan, modus yang dilakukan tersangka dengan cara melakukan pembukuan debit rekening simpanan nasabah baik dengan cara penarikan maupun pemindahanbukuan tanpa seizin dan sepengetahuan nasabah pemilik rekening.

“Penarikan dan pemindahanbukuan tersebut dilakukan oleh tersangka dengan cara melakukan reissue PIN Kartu Debit BRI, request, pemblokiran Kartu Debit BRI dan penerbitan Kartu Debit BRI tanpa sepengetahuan nasabah dan tanpa disertai dengan dokumen sumber sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Yakni dengan cara menggunakan ATM nasabah tanpa diketahui nasabah untuk bertransaksi. Dengan menggunakan Kartu Debit BRI yang diterbitkan oleh tersangka yang tidak sesuai prosedur tersebut, tersangka mengambil dana yang ada di rekening nasabah dengan cara melakukan transfer melalui EDC.

“Agar bisa mengaktifkan Kartu Debit BRI tersebut, tersangka menyelinap masuk ke ruang kerja Kepala Unit BRI Unit Pungging mengambil Kartu Debit BRI dan masuk ke Web Banking Service melalui komputer kerja tersangka. Uang tersebut digunakan untuk pribadi dan membiayai judi bola Anang Edy Jatmiko,” urainya.

Dalam kasus tersebut, kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan tersangka kurang lebih sebesar Rp2.062.266.000. Kerugian sebesar Rp2.062.266.000 tersebut dari 23 nasabah dengan nilai kerugian nasabah terbesar sebanyak Rp524.733.000. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar