Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Debt Collector Dilaporkan ke Polisi karena Tagih Utang dengan Kekerasan

foto/ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Aksi menagih utang dengan kekerasan masih terjadi di Surabaya. Terbaru, sejumlah debt collector dari PT Raflesia Janet Abadi dilaporkan ke Unit Reskrim Polsek Gubeng karena menagih utang dengan cara mengintimidasi dan menganiaya pemilik utang.

Korban penganiayaan tersebut adalah Joice Endah Ayudia (41) warga Jl Demak Jaya, Surabaya. Kepada wartawan, ia mengaku mendapat kekerasan fisik dan penyitaan kendaraan motor, oleh karyawan PT Raflesia Janet Abadi yang beralamat di Jl Purwodadi II, Kamis (22/9/2022).

Reston Tamba selalu kuasa hukum korban menyatakan bahwa kliennya yang meminjam uang ke salah satu pinjaman online (PT Kredivo Indonesia) sebesar Rp 3.384.000 oleh pihak kreditur lalu ditransfer ke rekening korban.


“Setelah mendapat pinjaman itu, klien kami kembali dihubungi oleh pihak kreditur dan diminta mengembalikan uang tersebut, sehingga ditransfer ulang ke rekening kredivo,” ujar Reston, Selasa (27/09/2022/).

Karena merasa tidak memiliki utang setelah mengembalikan pinjaman tersebut, Reston menambahkan ada pihak ketiga PT Raflesya Janet Abadi melakukan penagihan, sehingga melakukan konfirmasi.

“Saat klien kami mengkonfirmasi ke pihak ketiga, ternyata dipaksa melunasi utang yang tidak pernah dilakukan karena sudah mengembalikan. Kami ada bukti pengembaliannya,” tambahnya.

Namun, korban tetap dipaksa membayar untuk melunasi piutang tersebut dan dipaksa meninggalkan motor yang digunakan, sehingga membuat pengaduan ke Polsek Bubutan. “Awalnya klien kami hanya membuat aduan, namun langsung ditindak lanjuti,” pungkasnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Bubutan, Iptu Vian Wijaya saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengaduan yang dilakukan korban, sehingga pihaknya melakukan penyelidikan dan memintanya untuk membuat laporan.

“Dari pengaduan itu, kami menindaklanjuti dengan mendatangi rumah korban. Setelah dimintai keterangan korban ini saya ajak ke kantor PT Raflesia untuk melakukan klarifikasi secara langsung, ” ungkap Vian.

Karena tidak ditemukannya etika baik dari pihak Raflesia selaku pihak ketiga yang melakukan perampasan motor yang disertai dugaan adanya kekerasan fisik tersebut, pihaknya meminta korban untuk membuat laporan Polisi.

“Selama ini banyak keluhannya dari masyarakat atas tindakan dari pihak Raflesia yang selalu melakukan intimidasi, namun karena tidak membuat laporan, sehingga kami tidak bisa bertindak. Lalu dalam kasus ini, kami meminta kepada korban untuk membuat Laporan Polisi, ” tambahnya.

Korban yang membuat Laporan Polisi Nomor : LP/B/237/IX/2022/SPKT POLSEK BUBUTAN POLRESTABES SURABAYA, menurut Vian pihaknya melakukan serangkaian penyelidikan dengan meminta keterangan saksi saksi serta mengumpulkan bukti bukti lainnya.

“Sebelum menaikan ke Penyidikan, kami terus melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti bukti. Dan disini sudah jelas ada motif perampasan kendaraan yang dilakukan pihak Raflesia serta adanya dugaan kekerasan fisik.” pungkasnya.

Meski masih dalam penyelidikan, Vian menegaskan terdapat unsur kuat yang mengarahkan ke perbuatan pidana perampasan kendaraan yang dilakukan oleh pihak Raflesia serta melakukan kekerasan fisik sebagaimana diatur dalam Pasal 335 KUHP. [ang/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar