Hukum & Kriminal

Daur Ulang Materai, Enam Orang Pelaku di Bojonegoro Raup Untung Rp 342 juta

Bojonegoro (beritajatim.com) – Satreskrim Polres Bojonegoro mengamankan enam orang tersangka yang diduga telah melakukan pemalsuan dan daur ulang materai. Dari hasil perbuatan melawan hukum tersebut, tersangka diperkirakan meraup untung sebesar Rp342 juta dari hasil penjualan.

“Setiap satu lembar materai 6000 oleh tersangka dijual kepada pembeli dengan harga Rp5.800,” ujar Kapolres Bojonegoro AKBP M Budi Hendrawan, Rabu (15/7/2020).

Para tersangka mengaku, ribuan lembar materai itu dijual kepada warga yang akan mengurus kelengkapan surat pengajuan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) serta kepada pihak lembaga pendidikan. “Surat-surat yang menggunakan materai palsu itu sudah kita amankan terlebih dulu sebelum digunakan,” ungkap Kapolres.

Perbuatan tersangka, kata Kapolres, merugikan negara. Kasus pemalsuan materai itu terungkap setelah ada masyarakat yang merasa curiga. Setelah dilaporkan ke polisi, petugas melakukan penyelidikan dan didapati adanya pelanggaran hukum. Kasus pemalsuan itu dilakukan tersangka mulai 2 Juli 2020 lalu.

Lima tersangka yang berasal dari Kabupaten Bojonegoro, Muhibbul Abror (31) seorang guru asal Kecamatan Dander, Edy Suyono (48) seorang wiraswasta asal Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno, AH Muhibbudin (44) seorang guru asal Desa Karangdayu Kecamatan Baureno.

Serta Moch Nur Kamim (34) seorang pedagang asal Kecamatan Baureno, dan Subowo (35) asal Desa Kedungrejo, Kecamatan Baureno membeli matera palsu dan hasil daur ulang dari sebuah akun belanja online dari Semarang. Setelah dikembangkan, petugas kemudian berhasil mengamankan penjual, atas nama Abd Rosyid (35) asal Kelurahan Tlogomulyo, Kecamtan Pedurungan Kabupaten Semarang. “Ada 59.049 lembar materai bernomor seri sama dan hasil daur ulang yang dilakukan tersangka,” ujar Kapolres.

Sementara, aslah seorang tersangka, Muhibbudin mengatakan, hasil dari materai palsu dan daur ulang itu dijual kepada panitia yang mengurusi PTSL dan lembaga pendidikan. Dari tangan tersangka petugas mengamankan barang bukti sebanya 1.200 lembar materai 6000 yang diduga palsu dan daur ulang.

“Membeli dari akun jual beli online di Semarang, kemudian menjual lagi kepada petugas PTSL,” ujar tersangka kepada Kapolres Bojongoro saat pers rilis.

Atas kejadian tersebut, polisi menyangka tersangka dengan Pasal 13 Undang-undang RI nomor 13 tahun 1985 huru B dan C, dan atau Pasal 253 KUHP tentang peniruan atau pemalsuan materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Negara Indonesia dengan maksud aan menggunakan atau meyuruh orang lain menggunakan materai itu sebagai materai asli dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Selain itu, juga Pasal 257 KUHP yang berbunyi barang siapa sengaja memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau memasukkan ke Negara Indonesia materai, tanda merk palsu yang dipalsukan atau dibuat dengan elawan hak, atau barang-barang yang ditaruh materai tanda atau merk itu dengan melawan hak seolah-olah materai tanda atau merk itu asli tidak dipalsukan dan dibuat tidak melawan hak atau tidak dengan melawan hak pada ditaruhkan pada barang itu maka terancam pidana maksimal tujuh tahun penjara.

Serta Pasal 260 KUHP yang berbunyi barangsiapa menghilangkan merek pada materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Negara Indonesia dan yang telah dipakai, merek mana guna menjadi tanda, bahwa materai itu sudah dipakai dan tidak laku lagi, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh oranglain menggunakan materai itu, seolah – olah belum lagi dipakai terancam pidana penjara maksimal empat tahun. [lus/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar