Hukum & Kriminal

Data Simfoni PPA 2020: 7.464 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, 60% KDRT

Para polwan perwira tinggi dan Jendral meresmikan Center of Women Empowerment in Law Enforcement di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (29/4/2021).(Manik Priyo Prabowo)

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan dalam catatan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), sepanjang 2020 terdapat 7.464 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa, di mana 60,75% di antaranya merupakan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

AKBP Ganis Setyaningrum, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menjelaskan, korban kekerasan membutuhkan berbagai layanan spesifik dan berperspektif gender. Penyedia layanan hukum dan kesehatan tidak boleh menyudutkan atau menyalahkan korban terhadap kekerasan yang menimpanya.

Mengambil langkah dengan mendidik dan mengarahakan perubahan psikologis lebih baik. “Mereka juga harus diberikan pemahaman bahwa seringkali korban merasa tidak berdaya secara psikis, sehingga tidak memiliki kekuatan atau keberanian untuk melawan atau kabur dari peristiwa itu,” tegasnya, Minggu (2/4/2021).

Dirinya berharap Center of Women Empowerment in Law Enforcement dapat memberikan advokasi, sosialisasi, dan pemahaman yang masif bagi masyarakat terkait pentingnya penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan yang berbasis gender.

“Segala bentuk upaya untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan tidak boleh ditunda lagi. Apalagi, mayoritas kasus kekerasan terhadap perempuan berada pada ranah domestik, tekanan psikologis yang lebih dalam pun semakin menyertai penyintas, terutama dengan berbagai batasan untuk keluar rumah akibat pandemi covid-19,” ungkapnya.

Ketua Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Penegakan Hukum Brigjen Pol Juansih, dalam peluncuran Center of Women Empowerment in Law Enforcement di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kamis (29/4/2021) menyambut baik program ini.

Menurutnya pusat pemberdayaan itu sebagai wadah untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman, edukasi, sosialisasi, serta pendampingan yang difokuskan bagi perlindungan perempuan dan anak.

“Wadah ini kami harapkan bermanfaat bagi perempuan, terutama mereka yang bergerak di bidang penegakan hukum,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Sekolah Pascasarjana, Prof Badri Munir Sukoco, menambahkan secara sisi publikasi ilmiah tergolong masih stagnan sehingga perlu ada dorongan publikasi. Kelebihan jiga yang tidak begitu tinggi ini bisa menjadi positioning bagi wadah ini disekolah pasca sarjana Unair.

“Ini peluang yang besar karena tidak begitu banyak universitas yang mengambil topik yang sangat spesifik ini, Sehingga nantinya bisa didiskusikan dengan universitas luar negeri contohnya dengan kampus Harvard dan lainnya,” tandasnya.

Pelaksanaan launching ini dihadiri Direskrimum Polda Jatim Kombes Pol Totok Suharyanto. Selain itu sejumlah tokoh-tokoh perempuan yang kini berkarir di kepolisian seperti Kombes Pol Yuli Cahyani, AKBP Yayuk dan AKP Yuliani Ratih juga turut hadir.(man/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar