Hukum & Kriminal

Curah Hujan Tinggi, Dandim Imam Wibowo: Tetap Waspada dan Kenali Ciri Awal Longsor

Probolinggo (beritajatim.com) – Antisipasi bencana longsor dan pemantauan keamanan wilayah teritorial dilakukan Kodim 0820 Probolinggo. Upaya itu untuk memastikan kesigapan anggota TNI tanggap bencana jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat. Cukup beralasan, mengingat sebulan terakhir, intensitas curah hujan di Probolinggo, cukup tinggi.

Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Imam Wibowo, kepada beritajatim.com mengatakan, wilayah yang disisir kali ini adalah kawasan Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. “Kita harus hafal betul titik-titik dimana rawan longsor. Kebetulan daerah Kecamatan Sumber, ini dataran tinggi dan kontur tanahnya cukup labil,” katanya, Rabu (26/02/2020).

Sedangkan untuk antisipasi longsor, lanjut Imam, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, kodim masih akan melanjutkan penanam rumput vetiver disejumlah titik di dataran tinggi. “Kami memiliki sisa 18.000 rumput vetiver untuk ditanam,” sambungnya. Sekedar diketahui, dalam inspseksi mendadak (sidak) kali ini, Imam Wibowo, mengajak seluruh komandan koramil di jajaran Kodim 0820 Probolinggo. Pasukan menggunakan motor trail itu menyusuri seluruh desa di kawasan Kecamatan Sumber, dan berakhir di pucak Bukit 30. Atau diketinggian sekitar 3000 meter di atas permukaan laut.

Track yang dilalui selama perjalanan lumayan berat. Selain jalur curam, tak sedikit ditemui jalan makadam. Bahkan untuk mendekati puncak B30 kendaraan harus melawan jalan selebar sekitar dua meteran dibibir jurang dengan kedalaman sekitar 20 meter. Jalan ini lumayan bikin bergidik karena tanpa pagar pembatas dengan tepian jurang. “Seluruh Komandan Koramil sebanyak 26 anggota saya ajak. Untuk titik kumpul dan selesainya acara di Koramil Sumber,” ujar perwira menengah TNI dua melati itu.

Dalam kesempatan itu, Imam Wibowo, juga meminta masyarakat mengenali sejak dini sejumah ciri awal sebelum terjadinya longsor. Pertama setelah hujan akan tampak retakan pada lereng. Kerikil berjatuhan. Tebing namak rapuh dan kurang kokoh. Ke dua biasanya muncul mata air baru secara tiba-tiba. Ke tiga tanaman dan pepohonan akan nampak berdiri dengan posisi miring. Ke empat naiknya level air secara cepat yang disertai dengan meningkatnya volume tanah di sungai.

Dan ke lima biasanya terdengar gemuruh yang kuat sebelum terjadinya longsor. “Kita terus berikan edukasi masyarakat yang tinggal didaerah-daerah perbukitan seperti di Kecamatan Sumber ini, agar mereka juga tetap waspada saat curah hujan cukup tingi. Begitu terasa ada likuifaksi (tanah bergerak red) mereka sudah bisa langsung tanggap,” tutup dia. [eko/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar