Hukum & Kriminal

Cleaning Service di Kantor Dinas Pemprov Jatim Kepergok Edarkan Sabu

Pasutri dan pegawai cleaning service di kantor Dinas Provinsi Jatim jadi pengedar sabu di Surabaya, Senin (2/9/2019). (istimewa)

Surabaya (beritajatim.com) – Kekurangan penghasilan, pasangan suami istri (pasutri) di Surabaya nekat menjual narkoba jenis sabu-sabu. Saat gelar perkara di Badan Nasional Narkoba Kota Surabaya, pasutri ini menjual narkoba demi keuntungan Rp 50.000 per paket.

Selain pasutri, seorang cleaning service di suatu Dinas Provinsi Jawa Timur ini kompak edarkan sabu. Aktifitas ketiganya sudah dilakukan sejak setahun belakangan dan baru terbongkar hari Selasa (27/8) lalu.

“Ketiga tersangka itu adalah Dimas (19) warga Surabaya, Desi (20) warga Blitar dan Rizal (19) warga Tuban. Ketiganya ditangkap di rumah kos jalan Asempayung Surabaya saat mengantarkan pesanan paket sabu seberat 7,8 gram,” jelas Kepala BNNK Surabaya, AKBP Kartono saat gelar perkara di kantor BNNK Surabaya, Senin (2/9/2019).

AKBP Kartono juga menjelaskan, penangkapan ketiganya dilakukan ketika pihaknya mendapat informasi awal jika mereka kerap melayani pembelian sabu dalam jumlah gram yang cukup besar.

Berbekal informasi itu, petugas kemudian melakukan undercover buy untuk menjebak para pelaku.

“Petugas kami melakukan penyamaran untuk memancing pelaku ini agar masuk dalam perangkap. Kami lakukan pemesanan yang harus dikirim ke sebuah rumah kos. Saat mengantar barang itu, petugas yang sudah siaga.langsung melakukan penangkapan dan penggeledahan,” beber Kartono.

Saat digeledah, petugas menemukan lima belas poket sabu dengan berat total hampir 7,8 gram. Beberapa pipet kaca, plastik klip dan rmpat poket sabu dengan berat total 7,38 gram yang belum dipecah menjadi paket hemat siap edar.

Ketiganya mengaku dan tak dapat mengelak, saat petugas menemukan barang bukti tersebut. Bahkan, ketiganya mengaku memiliki kamar kos di jalan Medokan Surabaya sebagai safe house mereka.

Barang haram tersebut juga diakui merupakan kiriman dari dalam lapas Madiun. Sistem transaksinya melalui telepon dengan pengiriman secara ranjau.

“Pelaku DM ini yang pesan, lalu DS ini yang melakukan pembayaran, dan RZ ini yang mengambil barang ranjauan,” tambahnya.

Sementara itu, Desi mengatakan jika dirinya terpaksa mengikuti perintah suami sirinya,Dimas. Ia yang tahu Dimas sebagai pengedar kini turut serta dalam pengelolaan bisnis haram tersebut.

“Jualnya ya 200 ribu per poket mas. untungnya satu poket bisa 50 ribuan,” akunya.

Selain mengedarkan serbuk haram itu,ketiganya juga aktif sebagai pengkonsumsi. Hal itu dibuktikan urine ketiganya yang positif mengandung zat metaphetamine. [man/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar