Hukum & Kriminal

Cerita Tragis Buruh Migran Korban Perdagangan Orang asal Kediri

Kediri (beritajatim.com) – Kementerian Sosial Republik Indonesia (RI) memulangkan ribuan WNI Korban Perdagan Orang (KPO) pada tahun 2017-2018. Dari jumlah tersebut, sebanyak 180 orang berasal dari kota dan Kabupaten Kediri. Kondisi mereka sangat memprihatikan.

Salah satu dari mereka adalah Kiptiyah, asa Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Ibu rumah tangga yang satu ini menyimpan rasa trauma akibat kekerasan yang dilakukan oleh majikannya, sewaktu bekerja di Arab Saudi.

“Saya bekerja di Luar Negeri selama 7 tahun 8 bulan. Saya tidak akan kembali lagi kesana,” katanya di sela kegiatan pelatihan ketrampilan mantan buruh migran asal Kediri oleh Kemensos RI.

Menurut cerita Kiptiyah, dia terpaksa merantau karena ingin memperbaiki perekonomian keluarga. Perempuan berhijab ini pergi ke Arab Saudi. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. “Selama dua bulan saya tidak digaji. Bahkan, saya dituduh mencuri perhiasan emas milik majikan,” ungkap Kiptiyah. Karena tuduhan tersebut, Kiptiyah menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh majikannya.

Beruntung, Kiptiyah bisa selamat. Dia kabur ke Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi. Akhirnya ia bertemu dengan seorang anggota kepolisian yang menawarinya pekerjaan. “Saya bertemu dengan polisi baik hati. Saya ditawari pekerjaan. Dia bilang, masih ingin bekerja atau pulang. Karena keluarga menantikan penghasilan disini, akhirnya saya terima tawaran tersebut,” jlentreh Kiptiyah.

Kiptiyah mengambil tawaran menjadi babysiter lansia. Karena tekatnya yang kuat untuk memperbaiki nasib, Kiptiyah akhirnya bekerja dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya dia dipulangkan pemerintah melalui program bantu bersama ribuan TKI lainnya.

Menurut Drs. Waskito Budi Kusumo, MSi, Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan KPO Kemensos RI mengatakan, Kiptiyah merupakan satu dari cerita ribuan TKI korban kekerasan orang yang ditangani. Pihaknya berharap melalui bantuan tersebut, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi korban seperti Kiptiyah.

“Pemberian bantuan tersebut merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah terhadap
nasib para buruh migran yang telah dipulangkan ke daerah asal,” kata Drs. Waskito.

Kegiatan bantuan tersebut meliputi terapi penghidupan dan terapi psikososial yang pelaksanaannya khusus untuk wilayah kediri bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Gema Kasih Karunia Foundation Kediri (GKKF).

Sementara itu, Jesicha Yenny Susanty, Ketua Umum LKS GKKF sebagai kordinator pendampingan buruh migran dan korban perdagangan orang wilayah Kota dan Kabupaten Kediri mengatakan, persoalan TKI ke Luar Negeri dimulai dari awal sebelum berangkat.

“Akibat berangkat secara ilegal atau melalui calo tenaga kerja yang tidak bertanggung jawab menjadi salah satu penyebab banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang menjadi korban kekerasan, penipuan dan trafficking,” jelasnya.

Dari hasil assessment LKS GKKF, ada jalur legal, dan tidak sedikit pula yang berangkat dari jalur ilegal. Dimana untuk kasus-kasus yang lost contact , hilang atau susah dihubungi lebih sering diakibatkan karena mereka berangkat melalui jalur ilegal.

Biasanya, ketika TKI berangkat melalui jalur ilegal, sampai di negara tujuannya, sudah pasti para buruh migran tersebut di jual oleh agennya.

Jumlah buruh WNI migran KPO yang telah dipulangkan ke daerah asal di kota dan Kabupaten Kediri Kemensos RI 180 orang. Mereka sudah berhasil dijangkau mendapatkan edukasi terkait pendidikan pencegahan human trafficking.

Para peserta yang berasal dari Kediri tersebut selain diberikan pemahaman tentang keberadaan Undang-undang No 21 tahun 2007 tentang PTTPO juga mendapatkan arahan untuk membekali diri dengan keterampilan yang memadai jika masih ingin menjadi TKI, serta memastikan keberangkatannya pun harus melalui jalur legal.

Melalui kegiatan psikososial therapy, GKKF berharap dapat memberikan pengetahuan migrasi yang aman, save migration kepada masyarakat kediri agar terhindar dari korban perdagangan orang dan tipu daya calo perekrut tenaga kerja. [nng/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar