Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Cerai dari Istri, Bekas Pasien Rehabilitasi Edarkan Sabu di Kediri

Kediri (beritajatim.com) – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kediri meringkus dua pengedar sabu-sabu, Dea Prasetya Pradana Putra (24) warga Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri dan Thoriq Ahmad Maulana (24) warga Dusun Margosari, Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Dari penangkapan terhadap kedua tersangka, petugas mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya sabu-sabu lebih dari 5 gram, alat hisap, timbangan dan uang tunai Rp2,4 juta.

Kepala BNN Kota Kediri AKBP Bunawar mengatakan, penangkapan kedua tersangka bermula dari informasi masyarakat. Awalnya, petugas membekuk Dea Prasetya di sebuah warung kopi di Jalan Angkasa Kelurahan Lirboyo, Kota Kediri lalu mengembangkan kepada Thoriq.

“Kami melakukan penangkapan terhadap Dea Prasetya. Kemudian kita telusuri darimana barang didapat, ternyata dari tersangka Thoriq. Lalu, kami amankan yang bersangkutan,” kata AKBP Bunawar, Rabu (18/5/2022).

Petugas menangkap Thoriq dari rumahnya. Tersangka merupakan pecandu sabu-sabu yang pernah menjalani masa rehabilitasi oleh Dinas Sosial di Kota Surabaya, pada 2014 lalu. “Dulu kena sabu juga. Lalu, saya sempat direhab di Surabaya. Tetapi karena ada persoalan rumah tangga, kemudian kembali lagi,” aku Thoriq.

Usai direhabilitasi,  Thoriq sempat menjalani kehidupan normal selama kurang lebih 5 tahun. Dia merasa sudah lepas dari jeratan barang haram itu. Namun, karena bercerai dengan istrinya, Thoriq kemudian kembali ke dunia kelamnya. Dengan mengkonsumsi sabu, dia merasa bisa melupakan persoalannya.

Bahkan, tidak sekedar pecandu sabu. Tapi, Thoriq semakin berani. Dia menjadi seorang pengedar, hingga akhirnya diendus oleh BNN. Thoriq dibekuk dari pengembangan tersangka Dea Prasetya yang mendapat sabu-sabu darinya.

AKBP Bunawar menambahkan, antara tersangka Dea Prasetya dengan Thoriq Ahmad menjalankan modus baru peredaran narkotika. Bila umumnya pembeli menyerahkan uang setelah barang dikirim, pada kasus keduanya berbeda.

Dea Praseya membeli sabu-sabu dari Thoriq. Namun baru menyerahkan uang pembelian setelah sabu terjual kepada orang lain. Selain itu, tersangka juga menjual sabu dalam bentuk paket hemat seharga Rp200 ribu per bungkus yang mudah terjangkau.

“Ini adalah bentuk modus baru. Uang pembelian baru diserahkan kepada pemasok, setelah sabu-sabu terjual. Sehingga, seolah-olah pengedar sabu-sabu ini dipinjami modal oleh pemasoknya,” beber Bunawar. [nm/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar